September 27, 2021

Pacu Inovasi Teknologi di Sektor Pertanian, TaniHub, Microsoft, dan World Bank Gelar Cultivhacktion

Penulis: Iwan RS
Pacu Inovasi Teknologi di Sektor Pertanian, TaniHub, Microsoft, dan World Bank Gelar Cultivhacktion  

Mobitekno – Potensi Indonesia menjadi negara pertanian kelas dunia sudah lama terdengar. Sayangnya, banyaknya kendala yang dihadapi membuat impian tersebut masih belum terwujud hingga saat ini. Berbagai inisiatif dan kolborasi dilakuan berbagai pihak, seperti belum lama ini dilakukan oleh TaniHub Group, Bank Dunia, dan Microsoft dengan mengelar Cultivhacktion 2021.

Bertepatan dengan Hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggah 24 September, baik TaniHub Group, Bank Dunia, dan Microsoft berkolaborasi untuk menggelar Cultivhacktion. Ajang hackathon di sektopr agrikultur ini bertujuan mengumpulkan berbagai solusi dari siapa saja yang memiliki inovasi teknologi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sektor pertanian, khususnya petani. Adapun solusi yang dicari dalam acara ini adalah solusi yang bersifat praktis sehingga bisa diterapkan oleh petani skala kecil untuk mempercepat penggunaan teknologi.

Seperti diketahui, pertanian berkontribusi terhadap 13 persen dari perekonomian di Indonesia dan menjadi sumber mata pencaharian bagi 33 juta petani. Selain itu, pertanian berperan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat yang terus meningkat. Adapun nama ajang Nama acara tersebut merupakan singkatan dari kata Cultivate (Membudidayakan), Hackathon (Acara Para Pegiat Teknologi), dan Action (Tindakan).

Peranan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah di sektor pertanian juga pernah diungkapkan oleh Rektor IPB, Prof Arif Satria. Menurutnya, teknologi blockchain harus diadopsi di era industri 4.0 di sektor pertanian, misalnya untuk mengatasi kendala supply chain komoditas pertanian.

Ajang Cultivhacktion bertujuan untuk mengumpulkan berbagai solusi dari pihak-pihak yang memiliki inovasi teknologi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi petani. Adapun solusi yang dicari dalam acara ini adalah solusi yang bersifat praktis sehingga bisa diterapkan oleh petani skala kecil untuk mempercepat penggunaan teknologi. Berasal dari kombinasi kata cultivate (membudidayakan), hackathon (acara para pegiat teknologi), dan action (tindakan), ajang kompetisi ini bertujuan menghadirkan solusi teknologi bagi percepatan digitalisasi ekosistem pertanian di Indonesia.

“Solusi-solusi ini juga akan digunakan oleh Bank Dunia dalam proyek yang akan segera dilaksanakan di Indonesia terkait pertanian. Bank Dunia sudah pernah melakukan hal seperti ini. Namun, baru kali ini kami melihat satu kegiatan di mana ada 10 partner terlibat dalam kegiatan tersebut,” ungkap Global Lead for Data-Driven Agriculture Bank Dunia, Parmesh Shah dalam acara konferensi pers (24/9/2021).

Pertanian yang beralih ke digital mampu memberikan banyak manfaat. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen mengatakan bahwa teknologi membantu para petani dan pelaku usaha pertanian mengakses informasi, membuat keputusan yang lebih baik, dan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.

Panji Wasmana, National Technology Officer Microsoft Indonesia dalam kesempatan ini menyatakan bahwa pengunaan teknologi (digitalisasi) di sektor ini harus dipercapat agar dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan para petani. Setidaknya ada dua elemen yang perlukan agar peranan teknologi menjadi tepat sasaran di sektor ini.

Elemen pertama adalah lebih banyak developers untuk menciptakan inovasi yang relevan dalam menjawab kebutuhan di lapangan. Kedua, para pelaku industri pertanian dapat menggunakan solusi tersebut sehingga tercipta ‘link and match’.

CTO TaniHub Group, Kelvin Wijaya menyambut gembira digelarnya ajang Cultivhacktion tahun ini. Menurutnya, TaniHub sangat menginginkan penerapan teknologi di bidang pertanian dan menjadi suatu aksi yang nyata mengingat penerapannya bidang pertanian di Indonesia itu masih tergolong minim.

Bagi siapa saja yang tertarik untuk mengikuti acara Cultivhacktion ini dapat mengirimkan proposal yang berisi konsep solusinya untuk kemudian mengikuti bootcamp pertanian dan teknologi. Adapaun pendaftaran Cultivhaction telah dibuka sampai dengan 5 Oktober 2021. Selanjutnya, 10 peserta terpilih akan diberikan kesempatan untuk mengembangkan prototipe solusi yang diusulkan kepada Microsoft Azure, untuk kemudian mendapatkan pembinaan dari tenaga ahli di bidangnya. Tiga solusi terbaik akan mendapatkan dukungan lebih lanjut untuk mempertajam, serta melakukan uji coba dan meningkatkan skala. Sebagai tambahan informasi, periode pendaftaran dibuka hingga 5 Oktober 2021.

Cultivhacktion mendapatkan dukungan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kementerian Pertanian berharap ajang ini dapat mengakselerasi dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, termasuk petani dan pihak lain yang ada dalam ekosistem pertanian; menjadikan pertanian kita semakin maju, mandiri, dan modern, sehingga dapat menerobos pasar nasional maupun global.

Dalam sambutan resminya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan bahwa Jawa Barat merupakan rumah bagi 50 juta orang dan memiliki tanah yang subur. Kita juga melihat terdapat tiga jenis ekonomi yang tetap bertumbuh kuat selama pandemi COVID-19, yaitu keamanan pangan, kesehatan, dan digital. Jadi, inilah yang ada di Cultivhacktion, kombinasi dari pangan, ekonomi, dan inovasi digital. Ridwan berharap semua peserta acara sukses sehingga Jawa Barat bisa dijadikan sebagai contoh dalam inovasi pertanian dan ekonomi pangan.

Tags: , , , , , ,


COMMENTS