February 3, 2020

Red Hat Global Customer Tech Outlook 2020: Hybrid Cloud Masih Menjadi Strategi Utama Perusahaan di Asia Pasifik

Penulis: Iwan RS
Red Hat Global Customer Tech Outlook 2020: Hybrid Cloud Masih Menjadi Strategi Utama Perusahaan di Asia Pasifik  

Mobitekno – Memasuki tahun 2020, istilah transformasi digital masih akan terus diperbincangan, bukan hanya di perusahaan atau organisasi sektor TI tapi juga di berbagai sektor industri. Transformasi digital semakin dianggap penting bagi banyak organisasi karena menjadi salah satu faktor penting dalam kesinambungan bisnis mereka ke depan.

Red Hat sebagai penyedia solusi berbasis open source bagi perusahaan juga memberikan pandangannya mengenai fenomena transformasi digital ini secara global. Melalui laporan survei terbarunya (Red Hat Global Customer Tech Outlook 2020) yang diperoleh dari 876 responden di sektor enterprise (perusahaan) yang menggunakan solusi Red Hat di seluruh dunia. Hampir sepertiganya (275) berasal dari kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Red Hat Global Customer Tech Outlook 2020 juga mengungkap beberapa fakta tentang tantangan yang dihadapi perusahaan atau organisasi saat ini. Bagi banyak orang, infrastruktur TI menjadi prasyarat utama dalam suatu inisiatif transformasi digital. Sebagian besar perusahaan atau organisasi akan terus ‘merangkul’ solusi cloud hybrid, sedangkan sebagain kecil masih ingin mengadiopsi solusi private cloud lebih dulu ketimbang public cloud.

Laporan yang disampaikan langsung oleh Rully Moulany, Country Manager Red Hat Indonesia, di Jakarta (27/1/2020) sedikit banyak memberikan gambaran tren apa saja yang akan terjadi di perusahaan sepanjang tahun 2020. Secara ringkas, tren di tahun 2020 akan berkaitan dengan hybrid cloud, peningkatan adopsi transformasi digital, minimnya ketersediaan tenaga terampil, implementasi AI (Artificial intelligence) atau ML (Machine Learning), dan disparitas (perbedaan) manfaat transformasi tersebut bagi perusahaan berkaitan dengan peningkatan kolaborasi dan transparansi.

Selain itu, menurut Rully, ada beberapa tren teknologi menarik tahun ini yang terjadi di perusahaan, yaitu akan semakin banyak aplikasi yang menggunakan platform contanier (containerized applications) karena dapat menjawab tuntutan aplikasi saat ini. Platform container telah membawa perubahan signifikan bagaimana suatu software di perusahaan di bangun (build), disebarkan (ship), dan dikelola (maintain).

Mengenai kecenderungan perisahaan yang lebih fokus pada strategi adopsi hybrid cloud di kawasan Asia Pasifik (35 persen, tertinggi dibandingkan kawasan EMEA, LATAM, NA), Rully menjelaskan lumrah saja Asia Pasifik menjadi kawasan yang paling cepat mengadopsi teknologi cloud terbaru (hybrid cloud) karena besarnya tantangan bisnis yang dihadapi di kawasn tersebut.

“Kami menemukan banyak use case dari automation lewat AI (Artificial Intelligence) dan ML (Machine Learning) di sektor enterprise ini. Makin banyak perusahaan bergerak ke arah automatisasi demi efisiensi perusahaan,” ujar Rully.

Menurut survei, ada sekitar 30 persen yang berencana menggunakan teknologi AI/ML dalam 12 bulan ke depan jika sebelumnya teknologi ini belum diadopsi mereka. Situasi ini berbeda dibandingkan tahun lalu, dimana blockchain menjadi teknologi baru yang diprioritaskan paling utama di perusahaan. Tahun ini, blockchain ‘hanya’ berada di urututan keempat (12 persen) setelah teknologi AI/ML, Function-as-a-Service (21 persen) dan Internet of Things (19%).

Perbankan menjadi industri yang terdampak signifikan dengan dinamika teknologi beberapa tahun ini. Urgensi untuk menerapkan transofrmasi digital pun menjadi meningkat untuk tetap relevan dengan perubahan zaman. Menurut prediksi Rully, dunia perbankan akan menjadi semakin digital dan terbuka, dimana kolaborasi, kemitraaan dengan pihak lainnya, seperti startup fintech, operator telko, dan lain sebagainya. Namun Rully menekankan hal tersebut membutuhkan platform yangcocok dan memadai agar tidak malah merugikan kedua belah pihak.

Selain tantangan minimnya skill yang mumpuni di sektor teknologi, Rully juga menekankan semakin dekatnya teknologi 5G diimplementasikan di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia. Apabila sebelumnya teknologi ini baru diimplementasikan dalam skala kecil atau uji coba, di beberapa negara, seperti Tiongkok  mulai memasuki fase komersialisasi. Tahun ini beberapa inisiatif proyek 5G diyakini akan semakin banyak terjadi, termasuk di Indonesia.

Tags: , , , ,


COMMENTS