March 26, 2021

Luncurkan Finansial Fitness, OCBC NISP Ingin Anak Muda Fit dalam Keuangan dan Raga

Penulis: Iwan RS
Luncurkan Finansial Fitness, OCBC NISP Ingin Anak Muda Fit dalam Keuangan dan Raga  

Mobitekno – Kemampuan mengelola keuangan sebaiknya dimiliki oleh setiap orang sejak dini karena pengelolaan keuangan biasanya tidak diajarkan melalui pendidikan formal. Inilah yang menjadi salah satu alasan banyak anak muda akhirnya terjebak masalah keuangan meskipun sudah memiliki pekerjaan atau pendapatn rutin.

Terkait hal ini, bank sebagai lembaga yang menyediakan layanan keuangan juga ingin berkontribusi mensosialisasikan pentingnya pengelolaan keuangan bagi masyarakat, khususnya generasi muda agar mereka tidak terjebak dalam masalah keuangan.

Belum lama ini, PT Bank OCBC NISP Tbk. mengadakan program literasi keuangan digital bagi kaum muda agar memiliki pengetahuan, kebiasaan dan mindset financial yang tepat pengelolaan keuangan. Program pendampingan keuangan ini ingin diharapkan bisa mendukung Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045 nanti.

“Membangun generasi financially fit mulai dari meningkatkan pemahaman dasar, memperbaiki kebiasaan manajemen keuangan yang salah dan meluruskan mindset terkait financial yang keliru. Agar mereka dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat,” kata Ka Jit, Direktur Bank OCBC NISP, melalui diskusi online/virtual pada peluncuran Solusi Finansial Fitness OCBC NISP (15/3/2021).

OCBC NISP meluncurkan solusi Financial Fitness by NYALA OCBC NISP guna memberdayakan generasi Indonesia agar memiliki kondisi financially fit, menggeser mindset dari getting rich menjadi getting fit.

Menurut Ka Jit, menjadi kaya itu relatif atau tidak bisa diukur. Sedangkan menjadi seseorang yang memiliki kondisi keuangan yang baik (financially fit) itu jelas ukurannya. Sebut saja mulai dari kondisi tabungan, dana darurat, proteksi hingga dengan investasinya.

Menurut survei Indeks Literasi Keuangan OJK 2019, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih 38,03 persen dari total populasi. Ini berarti, sekitar 1 dari 3 orang yang memiliki kemampuan, keterampilan, perilaku yang baik dalam pengelolaan keuangan.

Menurut sensus Penduduk 2020, jumlah generasi milenial (kelahiran 1981-1996) mencapai 69,38 juta jiwa (25,87% dari total populasi). Sedangkan generasi Z (kelahiran 1997 ke atas) mencapai 75,49 juta jiwa (27,94% total populasi).

Deddy Corbuzier yang dikenal sebagai metalist hingga Youtube kenamaan juga melihat kurangnya kemapuan kaum muda dalam mengelola keuangan. Meski mereka umumnya ingin kaya, tetapi umumnya mereka belum memiliki ilmu yang cukup untuk mengelola keuangan secara baik.

Pola pikir yang kerap bisa menjebak kaum muda adalah efek ‘fear of missing out’ atau disingkat FOMO. Disini, mereka kerap takut ketinggalan tren tapi justru cenderung latah sehingga terjebak untuk mengkonsumi atau menggunakan barang yang kurang bermanfaat bagi mereka.

”Menjadi kaya itu relatif dan tidak bisa diukur, sedangkan menjadi seseorang yang memiliki kondisi financially fit atau bugar secara keuangan ada ukurannya, mulai dari tabungan, dana darurat, proteksi, sampai dengan investasi,” tutur Deddy yang didapuk sebagai Financial Fitness Director NYALA OCBC NISP.

Solusi Financial Fitness ini lebih dari sekedar produk keuangan. Ini merupakan solusi terintegrasi yang menghadirkan program pendampingan. Mulai dari Nyala Financial Fitness Squad, Komunitas Ruang meNYALA, platform edukasi https://ruangmenyala.com dan Ruang MeNYALA Financial Fitness Gym.

Menurut Ka Jit, ada tiga kesalahan dalam pemahaman keuangan dari generasi muda Indonesia yang kurang tepat saat ini. Yang pertama adalah kurangnya kemampuan atau ilmu dalam pengelolaan keuangan. Banyak yang mengambil keputusan finansial kurang tepat. Misalnya investasi mengikuti tren tanpa punya pemahaman dasar.

Problem kedua adalah kebiasaan manajemen finansial yang kurang tepat dan terbawa lifestyle kekinian. Misalnya tergoda ajakan diskon, atau membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan dengan cara kredit,” jelas dia.

Terakhir adalah mindset keuangan yang kurang tepat. Maksudnya perencanaan keuangan itu cuma buat orang kaya, karena biaya konsultasinya itu mahal atau perencanaan keuangan itu sulit. “Saya berharap program ini merangkul masyarakat, khususnya generasi muda. Ini bukan sekadar inisiatif bisnis, melainkan komitmen menjalankan responsible banking untuk mengajak masyarakat berdaya secara financial,” tandas Ka Jit.

Tags: , , ,


COMMENTS