January 22, 2018

Kalah Cepat dalam Proses Mining, Kenapa GPU Lebih Populer Ketimbang ASIC?

Penulis: Iwan RS | Editor: Iwan RS
Kalah Cepat dalam Proses Mining, Kenapa GPU Lebih Populer Ketimbang ASIC?  

Mobitekno – Aktivitas mining atau menambang Bitcoin membutuhkan prosesor/chip yang dapat melakukan komputasi algoritme kompleks. Pilihannya saat ini adalah chip, seperti CPU, GPU (Graphics Processing Unit), FPGA, atau ASIC (Application-Specific Integrated Circuit).

Saat ini para miner atau penambang banyak yang menggunakan chip GPU (chip pada graphics card) karena fleksibilitas dan kelengkapan instruction set dan library-nya dalam melakukan komputasi. GPU lebih efektif dan efisien sebagai accelerator proses tugas/load parallel untuk beragam operasi matriks yang kerap dibutuhkan dalam komputasi mining.

Selain GPU, para profesional miner (bukan enthusiast) juga banyak menggunakan chip ASIC, seperti AntMiner S7 atau AntMiner S9. Apabila dibandingkan GPU, chip ini justru memiliki kecepatan mining-nya (hash rate) jauh lebih baik dari chip GPU.

Mengingat coin BTC yang tersisa untuk ditambang saat ini disebut-sebut hanya tinggal 20 persen (80 persen sudah ditambang), apakah saat ini GPU masih menarik dibandingkan chip ASIC yang lebih cepat?

Fakta di lapangan belakangan ini justru menunjukkan aktivitas penambangan dengan GPU masih lebih populer ketimbang penambangan menggunakan sistem berbasis chip ASIC.

Apa sebabnya GPU lebih diminati dari chip ASIC? Salah satu mengingat keberadaaannya yang luas di pasaran dan harganya yang lebih masuk akal daripada chip ASIC.

Sebut saja harga GeForce GTX 1070, GTX 1070 Ti, GTX 1080, atau GTX 1080 Ti yang masih di rentang US$ 500 – US$ 1.500. Bandingkan dengan chip ASIC AntMiner S9 yang meskipun hashing rate-nya lebih tinggi harganya relatif lebih mahal dari GPU (mulai US$ 2.400).

Hitung-hitungan mana yang lebih ideal antara GPU atau ASIC untuk proses mining menjadi tidak sesimpel mengingat beberapa faktor, selain fleksibilitas, harga dan kecepatan mining, ada juga faktor efisiensi listrik dan ketersedian produk.

Satu faktor lagi yang juga patut diperhitungkan adalah penjualan kembali (reselling) sistem mining jika pengguna kelak tidak membutuhkan lagi atau melakukan upgrade. Apabila GPU dapat dengan mudah terjual kembali (digunakan oleh gamer), chip ASIC yang dirancang khusus untuk proses mining lebih sukar terjual mengingat fungsinya yang khusus.

Pamor ASIC belakangan juga menurun mengingat tendensinya yang ekslusif (didominasi oleh perusahaan dengan modal besar) bertolakbelakang dengan konsep desentralisasi dari cryptocurrency sendiri. Penggagas Bitcoin kerap mengkritisi penggunaan chip ASIC yang terlalu agresif dalam penambangan.

Bitcoin dibuat dengan visi menyediakan sistem pembayaran dengan prinsip kesetaraan, terbuka, desentaralisasi, dan dapat diakses (platformnya) oleh semua orang/pengguna. Penggunaan ASIC dianggap sedikit melenceng dari tujuan dasar dari cryptocurrency sendiri.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Bitcoin akhirnya dipecah ke bentuk lainnya (forked), yakni Bitcoin Gold (BCG) yang menganut algortitma Equihash (bukan SHA-256 yang digunakan Bitcoin). Algortima yang lebih resistan terhadap komputasi ASIC tapi tetap mendukung GPU.

Akhir kata, meskipun sistem berbasis chip ASIC adalah yang tercepat melakukan proses mining, pamornya menurun karena kurang diterima baik oleh banyak pihak. Selain itu, faktor harga, fleksibilitas, dan maintenance juga membuat GPU lebih diminati bagi kebanyakan pengguna. Tergiur ‘mengais-ngais’ coin cryptocurrency yang masih tersisa? Selamat menambang.

 

Tags: , , , , , ,


COMMENTS
OTHER ARTICLES