September 11, 2021

Yuk #CiptakanKebaikan, TikTok dan Enam Kreator Ini Ajak Pengguna Lain untuk Bijak Berkomentar

Penulis: Desmal Andi
Yuk #CiptakanKebaikan, TikTok dan Enam Kreator Ini Ajak Pengguna Lain untuk Bijak Berkomentar  

Mobitekno – Dalam bermedia sosial, seringkali kita melihat banyak komentar, mulai dari yang negatif hingga positif. Bahkan tidak jarang ditemui komentar-komentar yang sifatnya menghujat pengguna lain atau bahkan si pembuat konten. Hal ini berlaku juga di aplikasi TikTok. Padahal, komentar-komentar tersebut bisa berpengaruh ke pengguna lain. Apalagi tanpa kita sadari, terdapat juga pengguna yang baru beranjak dewasa yang turut melihat komentaar tersebut. Hal ini bisa berdampak buruk pada perkembangan mereka ke depannya.

Oleh sebab itu, melihat situasi seperti ini, TikTok mengadakan acara webinar Bincang Literasi Digital, Ciptakan Kebaikan di Platform Digital. Di acara ini, TikTok juga menampilkan sebuah video berjudul “From Meanies to Goodies” yang bercerita tentang reaksi enam kreator dari begara berbeda di Asia Tenggara atas komentar-komentar di karya mereka. Keenam kreator ini adalah Ashilla Sikado (@ashilla.sikado) dari Indonesia, Ayn Bernos (@aynbernos) dari Filipina, Ceddy Lopez (@ceddyornot) dari Malaysia, Jeynelle Ng (@buffbaby88) dari Singapura, Khánh Vy (@khanhvyccf) dari Vietnam, dan Kru P Ann (@krupann.english) dari Thailand.

Pemutaran video “From Meanies to Goodies” ini menjadi bagian dari webinar “Bincang Literasi Digital: Ciptakan Kebaikan di Platform Digital” yang diselenggarakan TikTok Indonesia bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi.

Dalam video tersebut, mereka pun memberikan penilaian dengan peringkat “Jahat” ke “Baik” pada skomentar-komentar yang ada. Mereka juga berbagi dampak dari komentar tersebut, baik komentar positif maupun komentar negatif.

“Saat ini kita sedang menghadapi era disrupsi teknologi. Padahal salah satu pilar penting dari agenda menuju Transformasi Digital adalah menciptakan masyarakat digital dimana kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya. Kemampuan literasi digital merupakan hal yang paling krusial dalam menghadapi tantangan teknologi saa ini, sehingga bisa tercipta masyarakat yang tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga cermat dalam menggunakannya,” ujar Samuel, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Republik Indonesia, dalam event TikTok ini, 10/9/2021.

Memang, diperlukan sifak bijak dalam berkomentar di media sosial agar bisa tercipta masyarakat digital yang siap dan cermat dalam menghadapi teknologi masa kini. Dari video yang “From meanis to Goodies” sudah terlihat bahwa banyak ditemukan komentar-komentar yang masuk kategori jahat di dalam karya mereka.

“Saat menerima komentar buruk, termasuk mengenai body shaming, itu memberikan dampak besar pada kepercayaan diriku. Tapi aku memilih untuk menghapus komentar tersebut lalu menekankan bahwa semua orang punya kecantikan yang unik dan mereka itu seperti layaknya ratu di kerajaan mereka masing-masing,” kata Ashilla Sikado, kreator TikTok.

Bincang Literasi Digital, Ciptakan Kebaikan di Platform Digital yang diselenggarakan TikTok, Siberkreasi dan Kominfo

Dari video tersebut, ada kalanya jika kita tidak bisa berkomentar tentang hal-hal yang baik, akan lebih baik bersikap diam saja. Hal ini bisa menimbulkan situasi yang lebih baik.

“Terkadang tanpa disadari, banyak orang berkomentar buruk dalam ber-Internet. Padahal dampaknya bisa saja hal tersebut juga dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Karena Internet saat ini bisa diakses dari anak-anak kecil hingga manula. Oleh sebab itu, Siberkreasi juga menciptakan panduan literasi agar situasi dalam bersosialisasi di Internet menjadi lebih baik,” ujar Dennis Adishwara, public figure yang aktif ikut gerakan Siberkreasi.

Salah satu komentar buruk yang sering ditemukan adalah mengenai body shaming dan cyberbullying. Hal ini bisa menimbulkan dampak negatif, tidak hanya pada kreator, tetapi juga pengguna lainnya.

“Fenomena cyberbullying atau sikap negatif di platform digital bisa jadi dipicu oleh ketidakpuasan seseorang terhadap dirinya, sehingga konten tertentu bisa mudah menyinggung perasaannya. Komentar dan konten negatif juga bisa memicu sikap negatif lainnya. Jadi memang sebaiknya kita perlu meredam komentar negatif tersebut dengan hal-hal baik, sehingga lingkungan daring kita pun bisa lebih nyaman,” kata Saskhya Aulia, Psikolog dan Co-Founder TigaGenerasi.

Untuk menangani masalah ini, TikTok sebagai aplikasi video pendek yang juga memiliki karya-karya menarik dari banyak konten kreator, terus berusaha untuk menyaring, tidak hanya komentar negatif, tetapi juga konten-konten yang bisa membawa dampak buruk. Tidak jarang, sebuah karya yang memiliki efek buruk akan diturunkan secara paksa (take down) oleh TikTok.

“Kami secara konsisten berusaha membuat TikTok menjadi rumah yang aman dan suportif di mana kreativitas bisa tumbuh. Melalui webinar dan video ini, kami ingin terus membangun diskusi tentang pentingnya menciptakan kebaikan di platform digital, melalui konten dan komentar yang diunggah. Kami sangat mengapresiasi kreator-kreator kami yang bersedia menceritakan pengalaman mereka di platform secara lugas, dan semoga itu bisa menginspirasi pengguna lain untuk berpikir sebelum mengunggah sesuatu,” kata Faris Mufid, Public Policy and Government Relations, TikTok Indonesia.

 

Tags: , , , , ,


COMMENTS