October 23, 2018

Kunto Aji dan Ronald Steven Jadi “Coach” dalam Bincang Shopee Edisi Sumpah Pemuda

Penulis: Rizki Romdoni
Kunto Aji dan Ronald Steven Jadi “Coach” dalam Bincang Shopee Edisi Sumpah Pemuda  

Mobitekno – Menyambut Hari Sumpah Pemuda, Shopee kembali menggelar BincangShopee edisi keenam yang mengangkat tema “Inspirasi Nada, Karya Pemuda”, di kantor Shopee, Jakarta, Sabtu (20/10). Berangkat dari rasa penasaran tentang bagaimana proses seorang musisi membuat atau mengaransemen lagu, Shopee menghadirkan langsung tamu yang ekspert dibidangnya, yakni Kunto Aji, penyanyi dan penulis lagu yang baru saja merilis album keduanya, dan Ronald Steven, music director.

Dua musisi ini tak diragukan lagi kapasitas dan kapabilitasnya dalam membangun industri musik tanah air. Mereka rela berbagi tips dan trik seputar proses kreatif dalam pembuatan musik dan lagu guna meningkatkan kecintaan talenta muda terhadap musik Indonesia. Satu hal yang patut diingat bahwa proses kreatif di balik pembuatan sebuah musik tidak melulu ditentukan dari peralatan yang canggih, namun proses mencari inspirasi yang terjadi di balik karya tersebut.

Rezki Yanuar, Country Brand Manager, Shopee mengatakan, “Di edisi spesial Sumpah Pemuda ini, kami menghadirkan dua musisi muda berprestasi untuk membagikan pengalaman mereka berkecimpung di industri musik Indonesia. Hal ini tentunya sejalan dengan komitmen berkelanjutan kami untuk mengedukasi dan meningkatkan taraf hidup pengguna dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh,”

Rezki berharap dengan hadirnya Kunto Aji dan Ronald Steven, Shopee bisa menjadi wadah bagi generasi penerus industri musik Indonesia untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan langsung dari para ahlinya, sehingga mereka tidak perlu ragu untuk terus berkarya.

Ronald Steven-Music Producer Session Player, Rezki Yanuar – Country Brand Manager Shopee, Kunto Aji – Singer Songwriter

Dalam gelaran workshop singkat ini, setidaknya ada 3 tahap penting yang perlu diperhatikan dalam proses produksi sebuah lagu:

Riset, riset, riset!

Ketimbang langsung masuk ke dapur musik, Kunto Aji menekankan pentingnya upaya untuk melakukan riset setelah menentukan tema besar karyamu. Ini juga yang menyebabkan karya-karya pria kelahiran Yogyakarta ini begitu segar di telinga. Setelah menentukan isu kesehatan mental sebagai tema besar untuk album keduanya yang berjudul “Mantra Mantra”, Kunto Aji giat membaca literatur dan berkonsultasi dengan rekannya yang seorang psikolog untuk mendalami seputar isu ini.

Hasilnya? Ia bisa menyatukan 9 ‘mantra’ dengan kerangka cerita yang luar biasa. Dengan proses riset yang cukup lama ini juga yang membuat Aji terpikir untuk memasukkan frekuensi 396 Hz di salah satu ‘mantranya’ yang berjudul Rehat. Menurut penelitian Solfeggio Frequencies milik Dr. Joseph Pulio, seorang psikolog asal Amerika Serikat, frekuensi 396 Hz ini bisa mengurangi pikiran negatif dan menyehatkan mental, lho, Sobat Shopee!

Sama halnya untuk memproduksi musik. Bagi Ronald Steven, salah satu kutipan favoritnya dari Steve Jobs yang berbunyi “stay hungry, stay foolish” ini mengharuskan dirinya untuk haus akan ilmu dan update seputar teknologi dan genre musik terbaru.

Sabar dan Nikmati Prosesnya

‘Mantra Mantra’ garapan Kunto Aji membutuhkan masa inkubasi selama 2 tahun. Aji memilih untuk mengikuti proses eksplorasi musik yang cukup panjang sampai akhirnya bertemu dengan kata ‘sepakat’ di kepalanya; dari proses riset yang memakan waktu 6 bulan, sampai akhirnya produksi.

Meski sempat terbersit ketakutan bahwa orang tak bisa menangkap apa yang coba disampaikan, proses demi proses dilalui Aji sampai akhirnya melahirkan lirik-lirik yang bersifat visual, naratif, dan deskriptif untuk dapat dinikmati pendengar.

Kualitas Karya Menjadi Tujuan Utama

Bagi kalian yang sudah memilih menekuni musik sebagai profesi, jangan lupa untuk terus mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama dari proses pembuatan sebuah karya harus musik itu sendiri. Diakui Ronald Steven, ini menjadi hal ini membantunya saat dihadapkan dengan kondisi di mana ia harus bersikap profesional dalam mengaransemen lagu yang nggak disukai, seperti perbedaan selera dalam genre. Selain karena bisa membuat diri merasa puas, ini menjadi pengingat diri sendiri akan alasan ia memilih menekuni musik.

Tags: , ,

  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

COMMENTS