August 25, 2020

Adopsi Jaringan Berbasis Cloud Meningkat 38% Seiring Adaptasi Perusahaan Terhadap Covid-19

Penulis: Rizki Romdoni
Adopsi Jaringan Berbasis Cloud Meningkat 38% Seiring Adaptasi Perusahaan Terhadap Covid-19  

Mobitekno – Dunia bisnis akan mengalami perubahan besar ketika transisi para karyawan ke lingkungan kerja hybrid ternyata mengubah cara tim TI melakukan pengadaan dan menggunakan solusi jaringan setelah COVID-19. Sebagai respons terhadap pandemi, para pemimpin TI kini meningkatkan investasi dalam teknologi berbasis cloudanalytic and assuranceedge computing dan teknologi jaringan yang didukung oleh AI, ketika rencana pemulihan bisnis disiapkan.

Hal itulah yang terjadi menurut sebuah survei global terhadap 2.400 pembuat keputusan TI (IT Decision Makers – ITDM) yang dilakukan Aruba, perusahaan Hewlett-Packard Enterprise.

Di saat para pemimpin TI merespons terhadap berbagai tantangan terkait para karyawan yang bekerja di lokasi yang berbeda-beda dan munculnya lingkungan kerja hybrid – di mana orang-orang ingin bekerja dengan lancar baik ketika berada di lingkungan perusahaan, di rumah, maupun di perjalanan – mereka berupaya meningkatkan infrastruktur jaringan dan beralih dari investasi yang bersifat belanja modal (Capital Expenditure/CapEx) ke penggunaan solusi “as a service”.

Oleh sebab itu, proporsi rata-rata penggunaan layanan TI berbasis langganan diprediksi akan mengalami percepatan sebesar 38% dalam dua tahun ke depan, dari 34% pada saat ini menjadi 46% pada tahun 2022 secara global. Sedangkan di APAC, penggunaan layanan TI berbasis langganan akan meningkat dari 35% menjadi 48%. Presentase perusahaan yang mayoritas (lebih dari 50%) solusinya bersifat as a service akan meningkat sebesar 72%, baik di tingkat global maupun APAC.

Justin Chiah, Senior Director, South East Asia, Taiwan and Hongkong/Macau (SEATH), Aruba, perusahaan Hewlett Packard Enterprise, mengungkapkan, “Dengan hadirnya lingkungan kerja hybrid, para pemimpin TI di Asia Pasifik, kini dituntut untuk dapat menghadirkan keseimbangan antara fleksibilitas, keamanan, dan biaya yang lebih terjangkau di semua sisi,”

“Makin jelas bahwa untuk mendukung kebutuhan baru ini, para pengambil keputusan TI kini tertarik dengan pengurangan risiko dan keuntungan biaya yang ditawarkan oleh model berlangganan. Ketika 77% organisasi global yang disurvei telah menunda berbagai proyek mereka gara-gara pandemi COVID-19, bisnis harus tetap tangguh dan mencari cara agar tetap lincah seperti yang dilihat dengan peningkatan investasi mereka dalam jaringan berbasis cloud (38%,) analytic and assurance (42%), edge compute (40%), dan teknologi jaringan berbasis AI (28%).” jelasnya.

Laporan yang didapat dari hasil survei terhadap para pengambil keputusan TI (ITDM) di lebih dari 20 negara dan delapan industri penting ini mencoba melihat bagaimana mereka merespon terhadap kebutuhan IT dan bisnis setelah didera pandemi COVID-19, keputusan investasi seperti apa yang mereka ambil sebagai akibatnya, serta model penggunan TI apa yang mereka pertimbangkan sekarang. Beberapa temuan penting antara lain: 

Dampak COVID-19 Memiliki Implikasi Signifikan 

Para pengambil keputusan TI melaporkan bahwa dampak yang ditimbulkan COVID-19 sangat signifikan terhadap para karyawan dan investasi jangka pendek mereka:

  • 22% menggambarkan dampak terhadap karyawan mereka termasuk signifikan (karyawan mendapat cuti panjang atau dirumahkan). Sementara 52% masih menganggap dampaknya termasuk moderat (adanya pengurangan sementara di beberapa fungsi), dan 19% menyatakan dampaknya rendah (sangat sedikit pekerjaan yang terkena dampak).
  • Di India (57%) dan Brazil (34%) COVID-19 disebut berdampak signifikan terhadap para karyawan. Sementara di Hong Kong (12%) dan Meksiko (10%) dampaknya kecil, dengan demikian menyoroti perbedaan besar yang terjadi di berbagai kawasan.
  • 78% di pasar APAC mengatakan bahwa investasi dalam proyek jaringan telah ditunda atau melambat sejak kasus COVID-19 mulai merebak, dan 27% mengindikasikan bahwa proyek telah sepenunya dibatalkan.
  • Pembatalan proyek di seluruh pasar APAC terjadi paling tinggi di India (37%) dan terendah di Australia (17%). Angka ini sekaligus menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antar-negara di kawasan yang sama. Sementara 37% pengambil keputusan TI di bidang pendidikan dan 35% di perhotelan mengatakan mereka harus membatalkan investasi jaringan.

“Dengan kebutuhan pelanggan dan karyawan yang berubah begitu komprehensif dalam beberapa bulan terakhir, tidak mengherankan melihat para pemimpin TI mencari solusi yang lebih fleksibel,” kata Chiah.

Walau pandemi COVID-19 pada berbagai tingkatan jelas berdampak pada berbagai proyek yang masih berjalan, riset ini menunjukkan berbagai dampak itu juga akan mengkatalisasi investasi jangka menengah menjadi teknologi jaringan yang lebih canggih dan beralih ke model konsumsi yang lebih fleksibel untuk membatasi kebutuhan modal di muka. Trend yang terjadi ini akan terakselerasi, termasuk peralihan menuju Edge dan pengapdosian jaringan pintar berbasis cloud dan AI.

Tags: , , ,


COMMENTS