May 18, 2019

Potensi Bisnis Besar, Sigfox Tawarkan Solusi IoT Non-Seluler Berdaya Rendah di Indonesia

Penulis: Iwan RS
Potensi Bisnis Besar, Sigfox Tawarkan Solusi IoT Non-Seluler Berdaya Rendah di Indonesia  

Mobitekno – Laporan riset McKinsey menunjukkan potensi pasar IoT (Internet of Things) di Indonesia di 2020 dapat mencapai nilai US$ 3 miliar (sekitar Rp 43 triliun). Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, bahkan menyebut potensi pasar IoT yang lebih optimis, yaitu mencapai Rp 444 triliun di tahun 2022.

Terlepas sebesar apa nantinya, sektor-sektor yang diprediksi bakal menjadi ranah berkembangnya IoT di Tanah Air, antara lain smart city, pertanian/perkebunan, maritim, otomotif, transportasi, manufaktur, dan retail.

Potensi pasar IoT di Indonesia ini juga menarik perhatian pelaku industri IoT global. Salah satunya adalah Sigfox, pengelola jaringan IoT asal Perancis yang baru saja mengumumkan kehadiran Sigfox Indonesia (melalui PT Kirana Solusi Utama) di Tanah Air. Dengan kehadiran ini, Sigfox Indonesia akan menjadi penyedia jaringan IoT non-seluler untuk konektivitas antar-mesin (M2M) pertama di Indonesia.

Berbeda dengan solusi IoT untuk perangkat terkoneksi (connected devices) umumnya yang memanfaatkan infrastruktur jaringan seluler, Sigfox menawarkan standar konektivitas perangkat IoT tersendiri dengan keunggulan berdaya listrik rendah untuk WAN. Standar ini digolongkan dalam teknologi Low Power Wide Area Network (LPWAN).

Segmentasi teknologi di industri IoT

 

Sigfox menawarkan konsep Low Powered IoT yang tidak membutuhkan pasokan daya listrik besar dan dapat dipantau dari jauh. Konsep ini pun tidak membutuhkan bandwidth yang besar untuk mengirimkan data, karena data dikirimkan secara berkala dalam ukuran yang tidak terlalu besar.

Sigfox tidak sendirian berain di standar LPWAN. Sejauh ini, ada tiga teknologi protokol yang populer secara global untuk solusi konektivitas perangkat IoT dan M2M (machine to machine). Selain Sigfox, ada teknologi lainnya, seperti Narrow Band-Internet of Things (NB-IoT), dan LoRa (Long Range Access). Salah satu operator pelat merah, Telkom/Telkomsel dikabarkan juga sedang menimbang-nimbang teknologi mana yang akan digunakan untuk solusi IoT di layanan mereka.

Ali Fahmi, Country Director Sigfox Indonesia, menjelaskan bahwa ekosistem IoT terdiri dari integrasi bagian/kompponen ABCD. Dalam hal ini A=aplikasi, B=back-end, C=Connectivity, dan D=device). Adapun Sigfox berada di posisi C, yang kemudian bekerja sama dengan D, lalu dengan A, dan memiliki B di sistem agar ekosistem berjalan dengan baik.

Sejauh ini, layanan Sigfox telah banyak digunakan untuk solusi asset tracking, logistik, dan utillity. Setiap tahun Sigfox selalu mencoba membuka jaringan barunya di berbagai negara. Tahun ini, Indonesia menjadi negara ke-60 yang akan dilayani jaringan IoT dengan teknologi Sigfox. Untuk mempersiapkan infrastruktur jaringan IoT dan memulai pengembangan solusi IoT di Indonesia, Sigfox akan menggandeng beberapa pemain lokal dan universitas.

Sigfox akan bekerjasama dengan perusahaan lokal untuk memproduksi alat dan sensor IoT bagi pengembangan solusi-solusi yang belum tersedia di Sigfox secara internasional. harapannya, solusi buatan Indonesia ini dapat ditawarkan kepada konsumen Sigfox di negara lainnya.

Berkaitan dengan izinregulasi Ketua Asosisasi IoT Indonesia Teguh Prasetya memaparkan saat telah ada regulasi yang mengatur hal teknis terkait IoT melalui PM No.1 Tahun 2019 dari Kementerian Kominfo tentang pengaturan frekwensi dan standarisasi perangkat IoT.

“Banyak solusi yang dibutuhkan di sini, khususnya implementasi di pertanian, perkebunan hingga parsel. Yang membedakan adalah, kami memungkinkan untuk logistik antarnegara,” ujar Ali Fahmi.

Meski memiliki potensi pasar, ada beberapa hal yang dapat faktor penghambat pertumbuhan industri IoT di Indonesia. Menurut Irfan Setiaputra, CEO Sigfox Indonesia, pada umumnya permasalahan penerapan IoT di Indonesia terkait empat hal, antara lain, standarisasi, interoperabilitas, jangkauan terbatas, dan struktur biaya yang kurang scalable.

“Sigfox melihat kendala-kendala tersebut dapat dimitigasi dengan penerapan IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan di sini,” tambah Irfan.

Menurut pihak Sigfox, penerapan IoT akan menjadi katalis bagi perusahaan atau industri untuk menciptakan model bisnis baru dan mengubah strategi kompetisi mereka. Ini berkaitan dengan ribuah bahkan jutaan data yang dihasilkan dari IoT

Dengan menerapkan IoT, perusahaan akan lebih mudah mengelola dan merekam informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan atau untuk menaikkan produktivitas dan efisiensi serta keamanan. Sebut saja informasi terkait pergerakan asset, kondisi tanah pertanian, dan sebagainya.

Tags: , , , , , , ,


COMMENTS