April 26, 2022

Ini Dukungan Teknologi AWS untuk Dua Startup Lokal di Bidang Lingkungan

Penulis: Iwan RS
Ini Dukungan Teknologi AWS untuk Dua Startup Lokal di Bidang Lingkungan  

Mobitekno – Seperti diketahui, isu lingkungan akan menjadi topik krusial bagi berbagai perusahaan digital di masa mendatang. Salah satu aspeknya yang menarik adalah terkait perdagangan karbon yang berawal dari komitmen banyak negara untuk bersama menangani perubahan iklim akibat pemanasan global. Dalam perkembangannya, muncul skema perdagangan karbon sebagai salah satu solusinya.

Sederhananya, credit karbon (carbon credit) adalah representasi dari ‘hak’ bagi sebuah perusahaan untuk mengeluarkan sejumlah emisi karbon atau gas rumah kaca lainnya dalam proses industrinya. Satu unit kredit karbon setara dengan penurunan emisi 1 ton karbon dioksida (CO2).

Sebagai salah satu hyperscale cloud provider terbesar di dunia, AWS (Amazon Web Services) selalu berkomitmen agar jaringan bisnisnya juga berkelanjutan bagi pelanggan dan lingkungan (bumi). Sejak 2019, Amazon telah ikut mendirikan The Climate Pledge yang membawa misi untuk menuju zero carbon di seluruh bisnis mereka di tahun 2040, 10 tahun lebih awal dari Perjanjian Paris.

Ken Haig, Head of Energy Policy for Asia Pacific & Japan, AWS mengatakan bahwa berdasarkan riset yang dilakukan 451 Research dan AWS tahun lalu, ditemukan bahwa migrasi ke infrastruktur cloud membawa dampak positif dengan adanya pemenghemat energi hingga hampir 5 kali lipat atau hampir 80 persen lebih efisien.

“Di Indonesia, kami bekerja sama dengan Clean Energy Investment Accelerator untuk menyediakan alternatif sumber energi terbarukan yang kian terjangkau dan tersedia bagi pembeli di kalangan perusahaan dan korporasi,” ujar Ken.

Dukungannya AWS agar selaras dengan misi sustainability juga diberikan untuk perusahan rintisan atau startup yang bergerak di bidang clean-tech. Startup ini dianggap bisa menjadi kunci pengembangan inovasi yang turut memajukan taraf hidup, kesehatan publik, dan kesejahteraan umum.

Salah satu startup lokal yang didukung AWS adalah Rekosistem dan Nafas. Dalam media briefing belum lama ini (25/4/2022), AWS berdiskusi dengan masing-masing pendiri dan CEO kedua startup tersebut, Ernest Christian Layman (Rekosistem) dan Nathan Roestandy (Nafas).

Topik yang diangkat adalah bagaimanan penaran teknologi cloud dalam mendukung startup bidang clean-tech untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan memitigasi perubahan Iklim.

Rekosistem adalah startup penyedia solusi pengelolaan limbah, sementara Nafas menggarap solusi monitoring kualitas udara di luar ruangan maupun dalam ruangan. Keduanya menggungakan teknologi berbasis cloud computing dari Amazon Web Services (AWS), perusahaan penyedia infrastruktur dan platform cloud global.

Baik Rekosistem dan Nafas merupakan bagian dari program inisiatif AWS Activate yang diperuntukkan untuk perusahaan startup. Sejak 2013, ratusan ribu startup di seluruh dunia telah menerima berbagai manfaat dari program AWS Activate, termasuk credits AWS, dukungan teknis, dan pelatihan untk membantu startup dalam mengembangkan bisnisnya.

“Berkat teknologi cloud dan machine learning AWS, kami dimampukan untuk merambah operasional baru dan meningkatkan skalanya dengan kecepatan tinggi,” ungkap Ernest saat diskusi daring.

“Karena Rekosistem terdaftar di program AWS Activate, kami juga tidak terlalu memusingkan biaya dan dapat berinvestasi pada talenta-talenta dan SDM mumpuni bagi kelangsungan perusahaan,” tambahnya.

Rekosistem sejauh ini telah memanfaatkan beberapa layanan AWS, seperti komputasi EC2 (Amazon Elastic Cloud Compute), database RDS (Amazon Relational Database Service), dan machine learning (Amazon SageMaker).

Selaku Co-Founder & CEO Nafas, Nathan berpendapat bahwa dengan menggunakan teknologi cloud dari AWS mereka dapat lebih cepat menyelesaikan perangkat keras Nafas.

“Tanpa AWS, kami mungkin saja membutuhkan 8-12 bulan tambahan untuk menyelesaikan perangkat keras Nafas, yang proses manufakturnya terdisrupsi akibat pandemi. Solusi AWS IoT juga memampukan kami untuk mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 5,5 juta datapoints, termasuk jenis gas, partikel di udara, dan lainnya dalam jarak lebih dari 220 kilometer,” tambahnya.

Tags: , , , , , , , , ,


COMMENTS