October 18, 2023

Target NZE 2060, BRIN dan PLN NP Kembangkan Micro-reactor dan PeLUIt-40 untuk Pembangkit Listrik dan Produksi Hidrogen

Penulis: Iwan RS
Target NZE 2060, BRIN dan PLN NP Kembangkan Micro-reactor dan PeLUIt-40 untuk Pembangkit Listrik dan Produksi Hidrogen 

Mobitekno – Pemerintah telah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 dan telah menyusun beberapa skenario, diantaranya nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi nasional ke depan.

Terkait hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT PLN Nusantara Power (PLN NP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Micro-reactor dan PeLUIt-40 Pembangkit Listrik dan Produksi Hidrogen”, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Tangerang Selatan, Senin (16/10).

BRIN dan PLN NP Micro reactor dan PeLUIt 01
BRIN melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) dan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Micro-reactor dan PeLUIt-40 Pembangkit Listrik dan Produksi Hidrogen di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Tangsel (16/10/2023).

PeLUIt merupakan pembangkit listrik yang menghasilkan listrik dan uap untuk keperluan industri. Apabila PeLUIt biasanya menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, atau gas alam) untuk menghasilkan uap panas, nuklir juga dapat digunakan sebagai sumber energinya.

BRIN: Reaktor nuklir untuk pembangkit listrik dan produksi hidrogen

PeLUIt nuklir akan menggunakan energi panas yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir untuk menghasilkan uap panas yang kemudian digunakan untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik. Uap panas ini kemudian digunakan untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik.

“BRIN melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) mulai mengantisipasi, menyiapkan diri untuk masuk ke era berikutnya, yaitu generasi pembangkit listrik dan produksi hidrogen. Selain listrik, peluang besar energinya adalah menghasilkan hidrogen,” ungkap Kepala ORTN BRIN Rohadi Awaludin.

“Hidrogen berbasis nuklir sebagai energi alternatif pengganti energi fosil. Produksi hidrogen menggunakan nuklir memiliki beberapa keunggulan, diantaranya mengurangi emisi gas rumah kaca untuk tujuan netralitas karbon,” lanjutnya.

Sementara itu, Vice President Technology Development PT PLN NP Ardi Nugroho mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang menjalankan program Enam Mercusuar sebagai upaya meningkatkan kapasitas energi listrik di Indonesia.

MMR nuclear 01
Ilustrasi reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik.

“Sebagai bagian dari komitmen global untuk mengurangi emisi karbon, PLN NP telah memulai program inisiatif 6 lighthouses atau enam mercusuar. Hal ini untuk meningkatkan teknologi dan inovasi dekarbonisasi yang mendorong transisi energi, dengan percepatan pengembangan energi terbarukan. Selanjutnya akan memungkinkan permintaan berkelanjutan dari teknologi baru,” ujar Ardi.

“Salah satu dari inisiatif 6 mercusuar adalah new energy atau energi baru seperti floating nuclear with Small Modular Reactor (SMR) dan land based nuclear power,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, untuk progres program energi baru saat ini, pihaknya bersama BRIN melakukan riset tentang SMR Floating dan Land-based Nuclear Power Plant serta riset micro-reactor dan PeLUit-40. PeLUIt-40 merupakan Pembangkit Listrik & Uap panas Industri dengan daya 40 megawatt termal.

“Riset micro-reactor dan PeLUit 40 untuk penghasil energi dan generator hidrogen. Hidrogen bisa digunakan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan, sehingga menjadi salah satu target kami ke depan,” tambah Ardi.

Menurut Ardi, PLN NP memiliki inisiatif dalam transisi energi di Indonesia. Subholding PT PLN (Persero) ini mengelola pembangkit listrik dengan total kapasitas sebesar 18 megawatt di tahun 2023, dan sekitar 23,7 megawatt di tahun 2025. “Kami berkontribusi sebesar 32 persen dari kapasitas instalasi nasional yang sebesar 73,7 megawatt,” terangnya.

Dalam kesempatan ini, Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN Topan Setiadipura menambahkan, energi nuklir menawarkan solusi rendah karbon untuk berkontribusi dalam Target Transisi Energi Nasional sebagai sumber listrik dan aplikasi kogenerasi.

“Penting untuk memahami momentum dorongan teknologi SMR dan permintaan solusi energi rendah karbon di Indonesia. Membawa ide-ide tersebut menjadi sebuah karya nyata yang berorientasi pada implementasi. Dan tentunya BRIN siap bekerja sama atau berkolaborasi untuk mewujudkan itu semua,” tegasnya.

Micro Modular Reactor (MMR)

Director of Ultra Safe Nuclear Corporation – Australia, James Voss memaparkan tentang Micro Modular Reactor (MMR), reaktor daya kecil generasi ke-4 yang diklaim sangat aman dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

“MMR berjalan aman dengan jarak buffer nol. Desain tersebut mengikuti penyelidikan intensif terhadap semua kecelakaan nuklir sebelumnya, dan mengintegrasikan desain untuk menghindari semua kesalahan sebelumnya,” jelasnya.

“MMR sendiri tidak bisa meleleh ataupun meledak, dan tidak menggunakan sistem dalam pengoperasian ataupun saat mematikan prosesnya,” tambah James.

MMR nuclear 02
Micro Modular Reactor (MMR) reaktor daya kecil generasi ke-4 yang diklaim Ultra Safe Nuclear Corporation aman dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Dirinya mengungkapkan, reaktor jenis MMR mampu menghasilkan energi hingga 15 megawatt, dengan pembuatan yang cukup cepat dibandingkan PLTN biasa. “MMR adalah reaktor berpendingin helium yang dimoderasi grafit, di mana reaktor jenis ini dapat menghasilkan energi sebesar 15 megawatt,” tuturnya.

“Mesin ini dapat beroperasi dari mode siaga panas hingga daya penuh dalam hitungan menit, sebanding dengan turbin gas. Pembangunannya juga cukup cepat, hanya sekitar 18 bulan, bahkan bisa kurang dari itu, terutama jika lisensi dan perizinan sudah didapatkan,” tandasnya

Tags: , , , , , ,


COMMENTS