November 30, 2022

Ekosistem Digital Perlu Diperkuat Agar Industri Telekomunikasi Bisa Hadapi Resesi Global 2023

Penulis: Desmal Andi
Ekosistem Digital Perlu Diperkuat Agar Industri Telekomunikasi Bisa Hadapi Resesi Global 2023  

Mobitekno – Setelah diterpa pandemi Covid-19 selama 2 tahun dan kini semakin membaik, cobaan ekonomi global ternyata tidak ikut berhenti. Tahun 2023 diprediksi dunia akan mengalami resesi ekonomi secara global. Bahkan, sinyal menuju ke resesi tersebut pun semakin terlihat di penghujung 2022 ini. Untuk itu, Indonesia harus waspada. Angka pertumbuhan ekonomi pada tahun ini tidak menjamin Indonesia bisa terbebas dari krisis global tersebut. Lalu, apa yang harus dilakukan Indonesia, terutama dari sisi industri telekomunikasi?

Dalam acara diskusi yang digelar Indotelko sekaligus merayakan ulang tahun ke-11 Indotelko, para tokoh di industri telekomunikasi bersama-sama menyatakan bahwa Indonesia harus memperkuat ekosistem digital. Indonesia harus melakukan mitigasi krisis sejak dini, sehingga bisa membuat strategi yang tepat di tahun 2023 esok.

“Perekonomian Indonesia memang lebih dari 50% ditopang konsumsi rumah tangga. Ini bisa menjadikan sektor telekomunikasi masih diuntungkan karena tahun depan konektivitas dan layanan digital menjadi kebutuhan pokok,” kata Doni Ismanto Darwin, Founder IndoTelko dalam forum diskusi yang digelar hari ini.

“Tantangan krisis ekonomi global akan ada di 2023 dipicu perang yang tak berkesudahan antara Rusia dan ukraina. Ini bisa menjadi masalah terutama di supply and demand yang banyak menimbulkan tekanan pada perekonomian dunia,” lanjut Doni.

Melihat kenyataan ini, Indonesia perlu melakukan digitalisasi di berbagai sektor. Bagusnya pada tahun ini diprediksi sektor telekomunikasi bisa terus bertumbuh. Bahkan di 2023 bisa meningkat di kisaran 4% hingga 5%. Memang ada banyak tantangan yang dihadapi industri telekomunikasiini. Apalagi kebutuhan belanja modal bagi operator dinilai masih tinggi, karena mereka harus berinvestasi untuk jaringan seperti 5G.

Selama dua tahun pandemi berjalan, industri telekomunikasi memang berkembang cukup signifikan. Dorongan dari pandemi membuat banyak pihak memerlukan konektivitas. Jadi, layanan telekomunikasi bergitu berarti.

“Aktivitas ekonomi masyarakat juga saat ini sangat bergantung pada ekonomi digital karena ruang digital mampu berikan alternatif dan efektifitas efisiensi dalam berbagai macam aktivitas ekonomi dari produksi, marketing, pembiayaan hingga distribusi,” kata ismail, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika 9SDPPI), Kementerian Kominfo.

“Industri digital yang dulu sebagai nilai tambah industri telekomunikasi dalam ICT justru kini jadi pelaku utamanya. Sehingga semua yang terlibat dalam ICt ini perlu melakukan perubahan pendekatan agar tadinya tumpuan industri ICT pada telco operators, sekarang berpindah ke layer berikutnya yakni layer platform, aplikasi, dan konten,” lanjut Ismail.

Dukungan Pemerintah

Guna menjalankan hal ini, perlu adanya dukungan pemerintah Indonesia. Salah satu yang dilakukan Pemerintah adalah membuar deregulasi regulasi penghambat usaha dengan hadirnya UU Cipta Kerja. UU ini memungkinkan terciptanya kolaborasi di sektor telko, seperti sharing infrastructure sampai dengan spectrum sharing. Kemudian, UU Cipta Kerja juga berikan ruang pemerintah pusat dan daerah melakukan perubahan posisi jadi fasilitator, yakni berikan kemudahan pelaku industri telko, misal untuk perizinan hingga tarif.

Untuk menghadapi krisis global 2023, industri telko juga harus melakukan antisipasi.

Hendri Mulya Syam, Direktur Utama Telkomsel, mengatakan melandainya pandemi Covid-19 memberikan harapan untuk semua industri untuk bangkit tahun ini. Namun terdapat tantangan dari sisi geopolitik, inflasi dan kenaikan suku bunga pada tahun depan.

Hal-hal itu diprediksi akan berdampak pada proyeksi pertumbuhan GDP yang menurut Morgan Stanley berkisar 2,9 persen tahun depan. Sementara di Indonesia, memasuki 2023, terbukti resilien menghadapi resesi-resesi sebelumnya. Dari sisi pertumbuhan makro Indonesia diprediksi alami pertumbuhan melambat tahun depan sebagai dampak penurunan daya beli masyarakat.

Dari dampak-dampak tersebut sejak 2018-2020, sektor DB, kesehatan, pendidikan, internet dan teknologi masih bertumbuh. Untuk itu, Telkomsel memastikan seluruh roadmap perusahaan untuk menghadapi tantangan tersebut dengan terus berinovasi menghadirkan layanan bisnis yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Hal yang sama juga diutarakan XL. Dian Siswarini, CEO dan President Director XL Axiata mengatakan, pihaknya yakin pertumbuhan XL Axiata tahun 2023 masih tetap positif seperti tahun sebelumnya. kKarena di balik tantangan ekonomi 2023 ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk terus bertumbuh.

“2023 perusahaan akan fokus ke 3 pilar utama. Yang ertama fokus pada penawaran convergent sesuai dengan vuisi perusahaan yang menyasar segmen keluarga dan SME,” kata Dian.

Kemudian, XL Axiata juga akan terus mengembangkan infrastruktur jaringan demi mendukung kualitas layanan lebih baik lagi, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur di luar Jawa. Lalu, soal kepuasan pelanggan dengan meningkatkan layanan digital dan personal sesuai yang dibutuhkan oleh pelanggan.

“Kami akan meningkatkan otomasi dan digitalisasi untuk efisiensi operasional, gunakan AI dan analitik sehingga solusi yang diberikan juga tepat sasaran sesuai yang konsumen butuhkan, serta mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi biaya meningkat tahun depan dengan cara menekan biaya operasional seperti energy saving,” lanjut Dian.

Sementara Indosat juga punya ID camp, yang memeprsiapkan talent digital untuik berkiprah secara global. Serta mendorong kiprah perempuan dalam pembangunan ekonomi nasional.

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menyampaikan perusahaan berupaya mengembangkan layanan 5G di sejumlah kota untuk mendukung percepatan digitalisasi.

“Yang sangat penting adalah soal literasi digital agar masyarakat Indonesia terutama kaum muda menggunakan teknologi secara positif. Kemudian, soal UMKM lantaran sektor ini berkontribusi 60 persen bagi ekonomi Indonesia sehingga kita harus mendukungnya. Salah satu inisiatif yakni marketplace Indosat untuk UMKM,” kata Vikram.

Pandangan yang sama juga keluar dari Rudiantara, ketua Umum Indonesia Fintech Socieaty. Menurutnya industri telekomunikasi perlu melakukan kolaborasi dalam ekosistem ekonomi digital, di luar bisnis network (jaringan) dan device (perangkat).

Industri telko saat ini ada 230 juta pelanggan seluler, sektor keuangan yang pegang rekening ada 150 juta, jadi banyak orang pakai ponsel tapi gak punya akses keuangan. Aplikasi tumbuh luar biasa, digital economy paling tinggi di e-commerce, semua transaksinya pasti menggunakan uang. Untuk itu fintech yaitu payment sistem dan lending yang pertumbuhannya jauh di atas industri telko.

Acara yang digelar sejak pagi hari ini juga menghadirkan tokoh-tokoh ternama di industri telko, seperti Heru Sutadi (Direktur Eksekutif ICT Institute) dan Reza priyambada (Analis Birsa saham).

 

Tags: , , ,


COMMENTS