January 20, 2018

Ini Kata Shopback Soal Perkembangan E-Commerce Indonesia di Tahun 2018

Penulis: Eko Lannueardy
Ini Kata Shopback Soal Perkembangan E-Commerce Indonesia di Tahun 2018  

Mobitekno – Pertumbuhan e-commerce yang cukup bagus di tahun 2017, menjadikan sektor ini primadona bagi para investor di 2018. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, nilai investasi di sektor e-commerce pada 2017 mencapai lebih dari US$ 5 miliar.

Melihat pertumbuhan yang begitu positif, ShopBack mencoba menganalisis beberapa hal yang akan menjadi buah bibir di sektor e-commerce di tahun 2018 ini. Pertumbuhan e-commerce di Indonesia juga tak lepas dari antusiame masyarakat untuk berbelanja dan berjualan secara online.

Indra Yonathan, Country General Manager, Shopback Indonesia menuturkan bahwa selain pertumbuhan e-commerce karena antusiasme masyarakat yang begitu besar, juga karena infrastruktur yang mendukung gerakan e-commerce ini dibangun lebih stabil dan memudahkan masyarakat.

“Masyarakat saat ini tidak hanya membeli gadget dan barang fesyen secara online, namun mereka juga sudah mulai membeli makanan, pulsa, membayar BPJS, serta tiket-tiket online, termasuk tiket pertandingan olahraga, konser dan bioskop,” ujar Yonathan lewat rilis yang dikirim ke Mobitekno.

Dalam analisanya, Shopback juga menemukan bahwa bakal ada lima hal yang menjadi buah bibir di sektor e-commerce pada tahun 2018. Kelima hal itu adalah Pola prilaku belanja bergeser ke online, Mobile wallet yang semakin marak, Jasa pengiriman yang semakin cepat, Instan seller pindak lapak, Penjualan tiket online meningkat.

Terkait dengan Pola prilaku belanja bergeser ke online, Yonathan menegaskan bahwa hal ini dibuktikan dengan volume transaksi e-commerce yang meningkat. Bahkan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) memprediksi akan ada lebih dari 50 gerai ritel berhenti beroperasi dan mengubah format bisnisnya esuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Survei yang kami lakukan, sebanyak 70,2% responden mengaku bahwa keberadaan toko online memengaruhi perilaku belanja mereka, di mana mereka lebih sering berbelanja online dibanding berbelanja di toko offline. Yang menarik, 83,1% responden mengaku pernah ke toko offline untuk melihat barang dan kemudian membelinya secara online,” jelas Yonathan.

Hal kedua, yakni Mobile Wallet yang semakin marak juga dibuktikan dengan beragamnya layanan pembayaran yang hadir di Indoensia. Contohnya GoPay, Jenius, TCash, Pay Pro dan OVO adalah layanan mobile wallet yang sering dibicarakan banyak orang di tahun 2017 lalu.

Lebih jauh, Yonathan menjelaskan bahwa dilihat dari Google Trends, volume pencarian untuk kelima mobile wallet ini mengalami peningkatan. Hal yang paling menakjubkan terjadi pada OVO. Aplikasi yang diperkenalkan awal 2017 ini telah menduduki peringkat teratas, Top Free App kategori keuangan di App Store dan posisi ketiga di Google Store.

“2018 akan menjadi saksi pertumbuhan mobile wallet di Indonesia. Baru-baru ini OVO dari Lippo bermitra dengan Grab untuk menyediakan layanan uang elektronik. Selain itu, GoPay dari Go-Jek, yang juga telah mengakuisisi tiga perusahaan fintech pada Desember tahun lalu,” tambah Yonathan.

Sedangkan tekait dengan hal ketiga, yakni Jasa pengiriman yang semakin cepat, orang nomor satu di Shopee untuk wilayah Indonesia ini menandaskan bahwa kemunculan jasa transportasi online dengan fitur pengiriman barang ikut berkontribusi. Kecepatan dan harga yang terjangkau sangat disukai oleh konsumen belanja online.

Seperti kita ketahui bersama, beberapa jasa transportasi online juga menyediakan layanan kirim barang. Hadirnya solusi ini juga disukai oleh banyak konsumen karena kecepatannya. Konsumen biasanya lebih memilih layanan pengiriman di hari yang sama (same day service delivery) serta satu hari (one-day service delivery).

“Kekurangannya, berbeda dengan kebanyakan layanan pengiriman konvensional, layanan pengiriman yang ditawarkan oleh jasa transportasi online hanya bisa dinikmati dalam satu kota yang sama. Oleh karena itu, layanan pengiriman konvensional masih menjadi pilihan utama untuk pengiriman antar kota,” jelas Yonathan.

Hal keempat adalah Instan seller pindah lapak. Tahun 2018 ini fenomena baru akan terjadi, dimana para penjual online, terutama yang di berjualan via media sosial akan mulai pindah lapak ke platform e-commerce. Satu hal yang akan dirasakan, selain kemudahan dan keamanan, transaksi yang mereka lakukan juga bisa dikontrol lebih optimal.

Terakhir adalah penjualan tiket online yang meningkat. Hal terbukti dari penjualan tiket secara online saat laga Timnas sepakbola Indonesia kontra Islandia yang berlangsung di GBK, Jakarta. Tercatat, lebih dari 20 ribu lembar tiket habis terjual secara online.

“Di 2018, akan banyak gelaran acara yang akan menyedot animo masyarakat. Sebut saja, gelaran pesta olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. Gelaran ini, diprediksi akan turut berkontribusi pada peningkatan penjualan tiket secara online di Indonesia,” pungkas Yonathan.



COMMENTS