March 22, 2022

Imbas Pembatasan Layanan Digital, Layanan Messaging Telegram Makin Populer di Rusia

Penulis: Iwan RS
Imbas Pembatasan Layanan Digital, Layanan Messaging Telegram Makin Populer di Rusia  

Mobitekno – Konflik Rusia–Ukraina membawa dampak positif bagi pertumbuhan pengguna layanan messaging Telegram. Menurut operator Rusia Megafon, Telegram telah mengambil-alih WhatsApp sebagai layanan berkirim pesan paling populer di Rusia. Salah satu faktor penyebab utama lonjakan ini adalah karena pemerintah Rusia mulai membatasi penggunaan layanan digital dari luar Rusia, seperti WhatsApp dan sejenisnya.

Sebagai kompetitor WhatsApp, Telegram dianggap lebih unggul dalam hal privasi, keamanan (encryption), dan API-nya open-source. Selain itu, fitur grup dari layanan milik Pavel Durov tersebut juga populer karena dianggap efektif dalam menyebarkan informasi secara cepat. Ini berbeda dengan WhatsApp dari Facebook/Meta yang fitur group-nya dianggap kurang lengkap dalam memfasilitasi anggota group dalam berkomunikasi.

Menurut Megafon, berdasarkan analisis lalu lintas internet seluler terlihat penggunaan Telegram mengalami peningkatan hingga 63 persen dalam dua minggu pertama bulan Maret, meningkat dari 48 persen pengguna, dalam dua minggu pertama bulan Februari.

Berdasarkan laporan Reuters, pesaingnya WhatsApp justru mengalami penurunan pengguna menjadi 32 persen dari sebelumnya 48 persen. Konsumsi data pun meningkat, dimana rata-rata pengguna Telegram mengonsumsi 101 MB data per hari, jauh lebih besar dari WhatsApp yang hanya 26 MB.

Situasi dan kondisi saat ini semakin memperkuat posisi Telegram di Rusia yang selama ini sudah menjadi platform populer, baik di kalangan media besar, pemerintah, dan tokoh masyarakat di Rusia. Diprediksi pertumbuhan layanan meningkat cepat sejak Rusia mulai menginvasi Ukraina pada tanggal 24 Februari lalu.

Selain Facebook, Instagram dan Twitter, pemerintah Rusia pekan lalu juga mulai menyasar platform video nomor satu sejagat YouTube. Dikutip dari Reuters, regulator media di Rusia, Roskomnadzor menuntut Alphabet sebagai pemilik YouTube untuk menghentingkan penyebaran berbagai video dan iklan di YouTube yang berisi ajakan boikot atau ancaman pemerintahan dan warga Rusia di YouTube.

Menurut Roskomnadzor, penyebaran video tersebut dianggap merupakan dukungan Google terhadap aksi teroris. Perwakilan Google di Rusia dan pusat sejauh ini belum meberikan respons terhadap tuduhan Roskomnadzor tersebut.

Tags: , , , ,


COMMENTS