March 18, 2021

Survei NTT: 96,2% Pelaku Bisnis di Asia Pasifik Memandang Pentingnya Cloud di Tengah Ketidakpastian Pandemi

Penulis: Karyo | Editor: Muhammad R
Survei NTT: 96,2% Pelaku Bisnis di Asia Pasifik Memandang Pentingnya Cloud di Tengah Ketidakpastian Pandemi  

Mobitekno – NTT, perusahaan layanan teknologi global yang berkantor di London, baru-baru ini telah merilis sebuah hasil survei yang dilakukan pada 950 pembuat keputusan di 13 negara dengan wilayah terpilih di Asia Pasifik (APAC).

Hasli survei yang dimuat dalam Laporan Cloud Hybrid 2021 tersebut menunjukan bahwa 96,2% Pelaku bisnis di APAC memandang pentingnya Cloud untuk memenuhi kebutuhan bisnis dengan cepat di tengah ketidakpastian pandemi.

Hal itu diungkapkan oleh Hendra Lesmana, CEO NTT Ltd. untuk Indonesia dalam paparan hasil survey NTT tersebut yang dilakukan secara virtual, Rabu (17/03).   

Menurut Hendra, dalam laporan tersebut memperlihatkan kebutuhan utama dalam mengimplementasikan cloud hybrid yang diperlukan untuk kelancaran bisnisnya. Laporan tersebut juga mengungkapkan peran yang diberikan cloud hybrid dalam membantu bisnis mencapai ketangkasan tersebut.

Lebih lanjut Hendra mengungkapkan bahwa sebelum Covid-19, banyak perusahaan telah memulai perjalanan transformasi digital, tetapi pandemi ini memperlihatkan bahwa banyak perusahaan tidak segesit yang mereka pikir sebelumnya. Pandemi ini menunjukkan adanya kekurangan dalam infrastruktur cloud bisnis, sisi keamanan, dan kemampuan arsitektur jaringan yang telah menghambat kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dan tetap gesit.

“Pandemi telah memaksa adanya perubahan pada pola pikir budaya di mana organisasi-organisasi global mengadaptasikan rencana ketangkasan mereka dari memulihkan infrastruktur dan aplikasi hingga mengatur karyawan yang bekerja dari kantor dan bekerja dari rumah,” ungkap Hendra.

“Terlepas dari ketidakpastian ini, pandemi telah memberikan peluang yang signifikan untuk mempercepat inisiatif-inisiatif transformasi digital,” tegas Hendra.

Secara  rinci Hendra mengungkapkan bahwa dalam laporan tersebut menggambarkan adanya peningkatan ketergantungan pada teknologi:

  1. 90,0% bisnis di APAC setuju bahwa pandemi telah memaksa bisnisnya untuk mengandalkan teknologi lebih dari sebelumnya.

 

  1. 60,3% organisasi-organisasi di APAC secara global sudah menggunakan, atau sedang mengujicoba penggunaan cloud hybrid

 

  1. Studi ini menemukan bahwa 31,6% responden di APAC berencana untuk menerapkan solusi hybrid dalam kurun waktu 12-24 bulan ke depan

Dari hasil temuan tersebut  menurut Hendra menunjukan bahwa sekarang ini cloud hybrid dipandang penting untuk pemrosesan berbasis data dan pengambilan keputusan secara real time baik sekarang maupun di masa depan.

Hendra juga menegaskan bahwa penggunaan Cloud hybrid, jika diterapkan dengan benar, akan menciptakan efisiensi.

Hendra Lesmana, CEO NTT Ltd. untuk Indonesia

Laporan tersebut lanjut  Hendra, menemukan bahwa peningkatan kecepatan dalam penerapan aplikasi dan layanan merupakan pendorong terbesar adopsi cloud hybrid (38,8%) di APAC, terutama dengan adanya pergeseran ke model kerja terdistribusi yang memungkinkan karyawan dapat bekerja di dimanapun dan perusahaan perlu mengakses data dan aplikasi dengan cara yang baru, berbeda dan seringkali rumit.

Menurut responden di APAC, motivasi terbesar kedua untuk mengadopsi cloud hybrid adalah peningkatan pada kelincahan bisnis secara keseluruhan (38,3%), diikuti oleh total biaya operasional TI yang lebih efisien (34,0%).

Sementara itu menurut Christophe Le Caignec, Kepala Operasi TI, di Lefebvre Sarrut Services, mengatakan: “’Infrastruktur kami sekarang memberikan kami untuk fokus pada waktu, sumber daya untuk pengembangan aplikasi dan siklus pengaturan waktu sehingga membantu kami untuk mewujudkan layanan baru untuk dipasarkan lebih cepat.”

Saat ini perusahaan, bagaimanapun, perlu mengimplementasikan cloud hybrid dengan cara yang akan mengoptimalkan lingkungan TI untuk memaksimalkan efisiensi. Inilah sebabnya mengapa lebih dari setengah organisasi (53,6%) sangat setuju tentang kebutuhan untuk terlibat dengan para ahli, seperti penyedia cloud terkelola.

Selain memaksimalkan efisiensi biaya menurut Hendra,  bisnis juga dituntut untuk melakukan perubahan sikap terhadap keamanan dan kepatuhan serta kompleksitas penerapan cloud hybrid. Laporan tersebut menemukan bahwa lebih dari separuh responden di APAC (51,2%) menyatakan bahwa kesulitan dalam mengelola keamanan data merupakan penghalang terbesar dalam mengadopsi cloud hybrid.

Untuk mengatasi hambatan tersebut kata Hendara, maka organisasi-organisasi harus memilih lingkungan TI yang tepat, di mana nantinya secara aman dapat menjadi tuan rumah bagi aplikasi mission-critical mereka yang di tempatkan di cloud publik dan cloud pribadi; dan bekerjasama dengan mitra yang memahami industri tempat mereka bekerja untuk memastikan adanya kepatuhan.

Laporan tersebut pun telah menemukan bahwa kinerja jaringan dan kurangnya keterampilan juga dianggap sebagai hambatan yang cukup besar untuk pengadopsian cloud hybrid. Apabila keduanya tidak ditangani dengan tepat, saat menerapkan cloud, maka dapat mengurangi manfaat yang ditawarkannya.

Terkait hal itu, Rob Lopez, Executive Vice President, Intelligent Infrastructure di NTT Ltd., berkomentar “Saat bisnis ingin menavigasi di tahun yang baru, mereka harus melihat ke lingkungan cloud hybrid yang telah dioptimalkan untuk ketangkasan, keamanan, dan didukung oleh arsitektur jaringan yang tepat sekaligus memenuhi persyaratan kepatuhan. Hal ini adalah fondasi dari kesuksesan dalam implementasi cloud dan akan memungkinkan bisnis untuk mengatasi segala bentuk gangguan yang dihadapinya.”

Lebih jauh Hendra menjelaskan bahwa untuk pengimplementasian cloud hybrid, kata kunci yang harus digunakan adalah kolaborasi. “Kolaborasi industri dan bekerjasama dengan para ahli dari eksternal akan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang tepat untuk menyiapkan lingkungan cloud hybrid bagi kelincahan bisnis pada sebuah perusahaan,” jelas Hendra.

Dalam laporan tersebut   terungkap  bahwa jenis kemitraan yang digunakan, 70,8% bisnis mengatakan mereka terlibat dengan integrator sistem, sementara 55,4% terlibat dengan konsultan spesialis keamanan informasi atau penyedia layanan keamanan terkelola (MSSP), dengan menggaris-bawahi pentingnya keamanan bagi penerapan cloud.

Tags: , , ,


COMMENTS