Faktor Cuaca, Tim Indonesia Gagal Raih Posisi Puncak di Ajang Shell Eco Marathon DWC di London

Tanggal : Rabu, 31 Mei 2017 - 11:00 WIB
Penulis : Desmal Andi


Faktor Cuaca, Tim Indonesia Gagal Raih Posisi Puncak di Ajang Shell Eco Marathon DWC di London

MOBITEKNO - Dua tim mahasiswa Indonesia dari  Tim Bengawan 2 UNS dan Tim ITS 2 gagal meraih posisi puncak di ajang Shell Eco Marathon Driver’s World Championship 2017 yang berlangsung selama empat hari (25-28 Mei 2017, di London. Faktor cuaca yang membuat kompetisi di sesi final tidak dihitung berdasarkan waktu tercepat di balapan terakhir, tetapi dihitungd ari catatan waktu pada saat sesi kualifikasi.

Namun, kedua tim ini tetap membanggakan Indonesia di kancah Internasional karena mereka merupakan wakil dari Asia di babak Grand Final. Satu tim Asia lainnya dari Filipina sidah terhenti di ajang tahap kualifikasi karena gagal dalam uji rem dinamis.

“Saya sangat bangga melihat kegigihan, tekad, dan semangat tim-tim mahasiswa Indonesia yang luar biasa ini,” ujar Darwin Silalahi, President Director & Country Chairman Shell Indonesia. “Kerja keras mereka patut mendapat apresiasi,” tambah Darwin.

Walau tidak mendapat urutan start tiga terdepan dalam tahap Grand Final, kedua tim dari Indonesia ini tetap optimis bahwa laju kendaraannya bisa berkompetisi dengan tim-tim lainnya. Semua tim yang masuk ke Grand Final telah lolos di dua tahap kualifikasi sebelumnya.  Kualifikasi pertama berupa inspeksi rinci terhadap 12 aspek teknis kendaraan. Sementara kualifikasi kedua mencatat waktu tercepat untuk menentukan urutan start.

Sayang, di tahap Grand Final, cuaca yang sebelumnya cerah, tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat. Panita pun terpaksa menghentikan lomba pada saat balapan baru berjalan 2 lap dari 4 lap yang ditentukan. Dan,  pemenang pun akhirnya disepekati merupakan tim yang mencatat waktu terbaik di tahap kualifikasi, sehingga untuk SEM DWC 2017 ini,  Saint Thomas Academy Experimental Vehicle Team Alpha dari USA berhak menjadi juara pertama, disusul tim la Joliverie Polytech Nantes dari Prancis di urutan kedua, dan tim Knight 3 Alder-Conger High School dari USA menempati posisi ketiga.

Tim Bengawan 2 UNS

Meski gagal meraih hasil terbaik, kedua tim mahasiswa Indonesia tetap bisa tersenyum. Bagi mereka perjuangan untuk mewujudkan mimpi mereka belum terbayar lunas. “Bisa bersaing hingga ke London, terasa seperti mimpi. Kalau kami tidak mengikuti kualifikasi untuk babak final Drivers’ World Championship, mungkin tidak akan pernah bisa berada di sini. Kami sangat berterimakasih kepada Shell atas kesempatan luar biasa yang telah diberikan kepada kami,” ujar Bhima Poetra Perdana, Manager of ITS Team 2.

Tim-tim Indonesia telah berkompetisi pada ajang SEM Asia sejak tahun pertama penyelenggaraannya pada 2010 di Sepang International Circuit, Malaysia hingga SEM Asia 2017 di Singapura. Selama 8 tahun penyelenggaraan SEM Asia, tim-tim mahasiswa Indonesia telah berhasil meraih berbagai prestasi pada kedua kategori mobil (urban concept dan prototype) dan berbagai sub-kategori sumber energi serta menorehkan rekor-rekor capaian terhemat.