August 19, 2020

Studi Baru F5 Menunjukkan Kenyamanan dalam Aplikasi Masih Lebih Utama Ketimbang Keamanan

Penulis: Desmal Andi
Studi Baru F5 Menunjukkan Kenyamanan dalam Aplikasi Masih Lebih Utama Ketimbang Keamanan  

Mobitekno – Informasi menarik ini baru saja disampaikan oleh F5 dari hasil studi yang mereka lakukan belum lama ini. Studi dengan nama Curve of Convenience 2020: The Privacy Convenience Paradox ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan digitalisasi baik di sisi perorangan maupun organisasi. Studi juga dilakukan untuk mengetahui perbedaannya dari tahun 2018 karena ini merupakan kelanjutan dari studi yang F5 lakukan pada tahun 2018. Hasil laporan yang keluar juga menunjukkan informasi mengenai kebiasaan masyarakat di Asia Pasifik dalam menggunakan aplikasi.

Digitalisasi di Asia sebenarnya dapat membuat terobosan pada perekonomian dunia. Oleh sebab itu, penggunaan aplikasi merupakan hal yang penting. Aplikasi kini sebagai pusat teknologi dan motor bagi penggerak bisnis.

“Aplikasi sudah menjadi standar baru untuk saat ini. Aplikasi kini tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga lebih luas lagi. Melalui studi yang dilakukan belum lama ini terhadap 4.07 responden dari 8 market berbeda di Asia Pasifik, F5 ingin mengetahui pengalaman masyarakat dalam menggunakan aplikasi. Kami ingin mengetahui sejauh mana kenyamanan, kemudahan, dan keamanan bisa mereka dapatkan dalam penggunaan aplikasi,” ujar Andre Iswanto, Senior Manager, Solutions Engineering, F5 Indonesia, di acara online media gathering minggu lalu. “Studi juga mempelajari bagaimana sekuriti menjadi pertimbangan banyak orang dalam menggunakan aplikasi,” lanjut Andre.

Beberapa kasus pencurian data yang terjadi juga tidak lepas dari kebiasaan masyarakat dalam menggunakan aplikasi. Memang ada perubahan perilaku dalam menggunakan aplikasi ini antara tahun 2018 dan 2020. Jika di 2018 sekuriti masih menjadi hal yang banyak dipertimbangkan dalam menggunakan aplikasi, di tahun 2020 ini sepertinya sedikit bergeser. Ini juga yang menyebabkan penggunaan aplikasi meningkat di tahun 2020. Dan, banyak masyarakat yang tetap menggunakan aplikasi, walaupun sudah pernah terjadi kasus pencurian data pada aplikasi tersebut. Hanya tingkat kepercayaannya saja yang berubah.

Dalam penggunaan aplikasi sendiri, ada peningkatan dibandingkan 2018. Di tahun 2020 peningkatan tertinggi ada di aplikasi hiburan, mencapai 11%. Kemudian disusul dengan aplikasi media sosial yang mencapai 7%. Namun begitu, 95% responden menganggap aplikasi media sosial menjadi yang terpenting dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan, bisa digunakan berkali-kali dalam sehari.

Andre Iswanto

Tiga Hal Utama yang Ditemukan dari Studi F5 Terbaru 

Studi di tingkat APAC ini juga menemukan tiga hal penting dalam masalah penggunaan aplikasi ini.

  1. Pencurian data tidak mempengaruhi kebiasaan pengguna dalam menggunakan aplikasi. Hanya 4% saja yang berhenti menggunakan aplikasi tersebut. Bahkan 27% responden tidak merasa khawatir dengan kasus pencurian data yang terjadi. Ini berbeda dengan situasi 2018 dimana 72% menghentikan penggunaan aplikasi saat adanya kasus pencurian data. Hasil ini menunjukkan masyarakat lebih bertoleransi dalam menggunakan aplikasi di 2020. Namun, ada hal menarik dari studi ini. Kasus pencurian data memang membuat kepercayaan terhadap industri bank dan ecommerce menurun hingga 18% dan media sosial 19%. Namun, ternyata pertumbuhan aplikasi bank justru meningkat dibandingkan 2018. Tampaknya pandemi Covid- 19 mempengaruhi hal ini. Banyak orang yang Work from Home melakukan transaksi bisnis melalui aplikasi finansial.
  1. Sekuriti menjadi fitur yang penting dari aplikasi. Studi menunjukkan bahwa walaupun tingkat kepercayaan kepada industri bankmenurun, tetapi tingkat kepercayaan terhadap aplikasinya meningkat, mencapai angka 63% di tahun 2020. Selanjutnya peningkatan kepercayaan diikuti oleh aplikasi milik pemerintahan, dan terakhir adalah ecommerce yang meningkat 47%.
  2. Pengguna lebih menyerahkan tanggung-jawab sekuriti kepada penyedia layanan dan pemerintah. Ini tentunya membuat tekanan besar kepada brand (penyedia layanan) dan pemerintah. Padahal, 71% pengguna menggunakan profil media sosial mereka untuk pproses login sebuah aplikasi. Bahkan 62% rela mengaktifkan fitur berbagi data, seperti GPS dan pelacakan di aplikasi mereka dengan tujuan memudahkan penggunaan aplikasi. Studi juga menemukan kenyataan 6 dari 10 orang nasabah rela memberikan informasi probadi untuk mendapatkan layanan yang lebih personal.

“APAC memang memiliki kebiasaan berdeda dibandingkan negara lainnya. Tantangan bisnis yang ada saat ini bagi organisasi adalah, bagaimana mereka bisa memberikan keseimbangan antara layanan yang mudah, nyaman, cepat, tetapi juga harus memberikan keamanan yang baik. Dan, tiap negara berbeda-beda dalam menerapkan tantangan ini,” tutup Andre.

Tags: , ,


COMMENTS