August 19, 2020

Pencurian Data? Menurut Studi F5, Orang Indonesia Lebih Menyalahkan Pemilik Aplikasi

Penulis: Desmal Andi
Pencurian Data? Menurut Studi F5, Orang Indonesia Lebih Menyalahkan Pemilik Aplikasi  

Mobitekno – Kasus pencurian data yang beberapa kali terjadi di beberapa aplikasi, terutama di aplikasi ecommerce di Indonesia memang cukup meresahkan banyak orang. Bagi yang sadar tentang pentingnya keamanan data, mereka akan khawatir data pribadi jatuh ke tangan yang tidak diinginkan dan disalah gunakan. Namun bagi yang tidak ‘aware’, mereka tetap nyaman menggunakan aplikasi tersebut. Sayangnya, ternyata kenyamanan dan kemudahan masih menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan keamanan. Kenyataan ini tergambar jelas dari hasil studi F5 terbaru, Curve of Convenience 2020: The Privacy Convenience Paradox yang baru dikeluarkan belum lama ini.

Bahkan, hasil studi mencatat 57% responden Indonesia menyatakan faktor kenyamanan lebih penting dibandingkan keamanan (43%). Namun, hasil ini lebih baik dibandingkan 2018. Dua tahun lalu, masayarakat Indonesia yang lebih mementingkan keamanan mencapai 37% dan kenyamanan 63%. Hasil tentunya menandakan ada peningkatan kesadaran tentang pentingnya keamanan di sebuah aplikasi.

DI tahun 2020, Indonesia tidak sendirian untuk perilaku masyarakat angka kenyamanannya lebih tinggi dibandingkan keamanan. Jepang dan Asutralia juga sama. Masyarakat di tiga negara ini lebih melihat kenyamanan dan kemudahan dalam menggunakan aplikasi untuk aktivitasnya sehari-hari. Berbeda dengan China, Hongkong, dan Taiwan. Masyarakat di tiga negara ini justru lebih khawatir dengan tingkat keamanan di dalam aplikasi.

“Memang, setiap negara di APAC memiliki kebiasaan berbeda. Sebenarnya, dalam menggunakan aplikasi ini ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu pengguna, proses, dan teknologi. Pengguna harus diedukasi mengenai pentingnya keamanan. Prosesnya juga harus diketahui dua arah yaitu pengguna dan penyedia, serta teknologi keamanan yang baik. Untungnya, di tahun 2020 ini teknologi keamanan di aplikasi sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu,” ujar Andre Iswanto, Senior Manager, Solutions Engineering, F5 Indonesia.

Hasil studi yang menunjukkan negara dengan perilaku masyarakatnya terhadap kenyamanan dan keamanan aplikasi

Hasil Studi untuk Indonesia

Khusus untuk wilayah Indonesia, hasil studi F5 terbaru ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih menyalahkan penyedia layanan jika ditemukan adanya kasus pencurian data. Penyedia layanan merupakan pihak yang paling bertanggung-jawab. Hal ini tentu berbeda dengan temuan studi untuk negara-negara lain di APAC yang menunjuk penyedia layanan dan pemerintah adalah pihak paling bertanggung-jawab.

Faktor keamanan dan malware juga menjadi hal serius bagi pengguna aplikasi di Indonesia. Hal ini karena aplikasi mobile di Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan aplikasi web. Untuk dunia perbankan, studi juga menemukan kenyataan bahwa masyarakat Indonesia percaya penuh dengan aplikasi dari perbankan. Angkanya mencapai 62%.

Sementara itu, dalam hal penggunaan aplikasi, masyarakat Indonesia juga termasuk yang paling gemar bermain aplikasi media sosial. Pertumbuhannya sangat tinggi. Bahkan, 74% responden menggunakan aplikasi media sosial berkali-kali setiap harinya. Hanya 18% responden yang hanya membuka aplikasi media sosial sekali saja setiap harinya. 34% responden juga menyatakan bahwa sekuriti menjadi hal penting bagi setiap aplikasi yang mereka gunakan, 20% untuk kenyamanan dan kemudahan, dan 16% untuk kecepatan aplikasi.

Masyarakat Indonesia juga cukup sadar dengan pentingnya keamanan karena 40% responden akan mengaktifkan VPN saat merekaa tersambung ke jaringan Wi-Fi. Walau begitu, F5 Indonesia selalu melakukan edukasi kepada pelanggannya guna memberikan pengetahuan tentang pentingnya keamanan. F5 juga memberikan berbagai solusi untuk membantu pelanggannya, terutama di pandemi Covid-19. Bahkan, F5 memberikan penawaran kepada pelanggannya yang ingin mengetahio sejauh mana keamanan yang mereka gunakan dalam organisasi. Layanan ini diberikan tanpa biaya.

“Inovasi dan kompetisi merupakan tantangan terbesar bagi organisasi di tahun 2020 ini. Mereka didorong untuk menggunakan cara-cara baru, terutama di era new normal. Di situasi seperti ini, organisasi juga harus pandai dalam menempatkan resource,” tutup Andre.

 

 

Tags: , , ,


COMMENTS