November 19, 2015

Review Lenovo Yoga 300: Notebook Convertible Mini yang Terjangkau

Penulis: Iwan Ramos Siallagan
Review Lenovo Yoga 300: Notebook Convertible Mini yang Terjangkau  

MOBITEKNO – Hingga kini, jenis notebook berukuran kecil (layar 11 -13 inci) dengan harga relatif terjangkau masih diminati konsumen (pengguna). Salah satu jenisnya, netbook, bahkan sempat mengalami masa ‘kejayaan’ di tahun 2007 hingga akhir 2010.

Di era itu, banyak bermuculan model netbook yang umumnya punya satu kesamaan, yaitu layar dan keyboard relatif kecil, tidak dilengkapi optical drive, dan menawarkan performa standar (jika tidak bisa dikatakan lambat).

Pasca 2010, masa kejayaan notebook mini, netbook, subnotebook, portable notebook, atau apa pun istilahnya perlahan-lahan meredup dengan populernya perangkat tablet, seperti iPad dan beragam tablet berbasis Android lainnya.

Karakteristik tablet yang lebih portabel daripada notebook/netbook dianggap cocok bagi konsumen yang umumnya hanya ingin sekadar melakukan aktivitas standar, seperti mengakses web atau digital content, bermain game, dan berbagai aktivitas lainnya yang tidak banyak membutuhkan penggunaan keyboard.

Meski tren tablet terus berlangsung hingga saat ini, berbagai model subnotebook baru masih tetap ditawarkan sejumlah produsen PC/notebook di pasar. Salah satunya adalah notebook Lenovo Yoga 300 yang akan di-review berikut ini.

Lenovo memposisikan seri Yoga 300 sebagai notebook mini terjangkau yang bukan saja mudah dibawa kemana saja (portabel), tapi juga bisa difungsikan dalam berbagai mode atau form factor.

Notebook dengan dukungan multi-mode (bukan hanya sebagai notebook standar) kerap diistilahkan sebagai notebook hybrid atau convertible. Bermunculannya notebook convertible bisa dianggap sebagai salah satu strategi para produsen notebook dalam mengimbangi fenomena tablet di pasaran saat ini.

Yoga 300 sebagai convertible notebook didukung pula oleh kampanye Lenovo “SIAP MAJU” yang intinya menyasar pembeli dari kalangan muda (berusia 18-35 tahun) dari kalangan pelajar/mahasiswa/pekerja yang menginginkan notebook multifungsi sebagai computing device pertama mereka (first time buyer) setelah smartphone.

Spesifikasi

Berikut ini spesifikasi Lenovo Yoga 300 yang dikategorikan sebagai notebook convertible mini yang relatif terjangkau.

 

 Prosesor/CPU  Intel Celeron N2840 (base 2.16 GHz, Turbo 2.580 GHz)
 RAM/Memori  4 GB DDR3L (bisa di-upgrade ke 8 GB)
 Layar  11.6 inci (1366 x 768 pixel, TN panel, layar sentuh, integrated camera)
 Media Storage  HDD 500 GB
 Connectivity  Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.0, Gigabit LAN
 Port  1 x USB 3.0, 2 x USB 2.0, HDMI, SD card- reader, headphone jack, RJ45
 Baterai  Li-Polymer 2 cell (32 Wh) berdurasi 4-5 jam
 Sistem Operasi  Windows 8.1 64 bit (bisa di-upgrade gratis ke  Window 10)
 Dimensi  299 x 209 x 22 mm
 Berat  1.36 kg
 Lain-lain  non-backlit keyboard, tersedia dalam warna  hitam/putih, Webcam 0.3 MP, HD Digital Mic.

 

Spesifikasi Yoga 300 yang ditawarkan Lenovo di Indonesia (mungkin berbeda di negara lainnya) secara umum menunjukkan segmentasinya sebagai notebook portabel yang terjangkau.

Ini ditunjukkan pada spesifikasi teknisnya, seperti prosesor Intel Celeron N2840 (bukan Intel Core M/i3/i5i7), hard disk drive 500 GB (bukan SSD), dan layar HD dengan TN panel (bukan layar Full-HD dengan IPS panel).

Layar 11 inci berjenis TN panel akan membawa konsekuensi pada sudut pandang pengguna yang kurang lebar dan level reproduksi warna, brightness dan contrast yang lebih rendah dibandingkan layar IPS panel.

Tren bezel layar tipis di smartphone seharusnya diadopsi pula di notebook

Dampak ditekannya biaya produksi juga terlihat pada bezel layar Yoga 300 yang cukup lebar. Akibatnya Yoga 300 pun kurang mengoptimalkan ukuran bodi layarnya agar lebih besar dari 11,6 inci tanpa memperbesar ukuran bagian layar notebook secara keseluruhan.

Beralih ke hal positifnya, Yoga 300 menggunakan keyboard chiclet dengan ukuran dan jarak antar tombol yang cukup ideal. Ditambah dengan tactile feedback-nya yang baik, pengguna pun dijamin akan merasa nyaman saat mengetik.

Susunan tombol keyboard juga diposisikan jauh di atas bodi notebook (dekat dengan engsel). Hal ini memberikan kemudahan dan kelegaan bagi pengguna saat meletakan kedua pergelangan tangannya saat memakai keyboard.

Sedikit catatan untuk permukaan touch pad-nya yang sedikit kasar mungkin dirasakan kurang nyaman bagi jari sebagian pengguna saat melakukan manuver kursor di Windows.

Kelengkapan, Desain & Ergonomi

Lenovo Yoga 300 datang dengan kelengkapan standar layaknya produk notebook, seperti AC power adapter, kabel power, dan beberapa dokumentasi (buku manual, setup, purna jual, dan kartu garansi).

Namun, berbeda dengan notebook standar yang biasanya menyediakan tas notebook, Lenovo kali ini menyediakan sebuah sleeve case yang terbuat dari bahan polyester berwarna hitam.

Ukurannya yang relatif kecil (299 x 209 x 22 mm) dan ringan (1.39 kg) mungkin menjadi pertimbangan Lenovo lebih memilih sleeve case agar Yoga 300 di dalam case bisa langsung dimasukkan ke dalam tas atau dibawa langsung seperti halnya sebuah tablet.

Yoga 300 memiliki ketebalan bodi sekitar 21,8 mm. Dengan ketebalan tersebut, Lenovo cukup optimal memanfaatkan kedua sisi kanan dan kiri notebook untuk menempatkan berbagai port, slot, indikator, atau tombol. Terhitung, ada tujuh (7) di sisi kiri dan enam (6) di sisi kanan notebook.

Pada sisi kiri, terdapat slot pengaman Kensington lock, konektor power, satu port USB 2.0, slot 4-in-1 card reader, tombol rotation lock, dan tombol volume rocker. Sedangkan sisi kanan terdapat port Ethernet (LAN), port HDMI (full size), satu port USB 3.0, satu USB 2.0 port (powered), power button, dan lampu LED indikator.

Penempatan port dan konektor juga diatur Lenovo secara optimal di kedua sisi bodi Yoga 300. Ini terlihat pada lokasi konektor power yang ada di sisi kiri belakang (dekat layar) serta port Ethernet (LAN) dan port HDMI di sisi kanan belakang (dekat layar).

Penempatan ketiganya di kedua sisi belakang membuat susunan ketiga kabel (power adapter, LAN, dan HDMI) tidak terlihat ‘kusut’ karena bisa ditempatkan ke bagian belakang notebook.

Lenovo juga telah mendukung fitur yang disebut “Always-on USB”. Dengan fitur ini, port USB Yoga 300 bisa digunakan untuk mengisi baterai (charging) smartphone atau perangkat USB lainnya.

Fitur “Always-on USB” akan tetap bisa digunakan men-charging perangkat meski notebook berada pada mode sleep, hybernate, atau mati total (off). Dengan catatan, kabel AC power adapter masih terhubung ke sumber listrik.

Lenovo Yoga 300 dengan sistem Windows 8.1 ini juga telah dilengkapi dengan beberapa aplikasi dan tool utama agar pengguna bisa langsung mengunakan notebook ini secara maksimal.

Beralih pada kelengkapan software, Yoga 300 telah menyediakan beberapa aplikasi dan tool, seperti Microsoft Office 2013 (masih butuh aktivasi), OneKey Recovery7.0, Lenovo Photo Master 2.0, REACHit, Lenovo SHAREit, Lenovo Solution Center, Lenovo Harmony, McAfee LiveSafe (trial), dan lain-lain. Beberapa kegunaan beberapa software ini akan dijelaskan di bagian Fitur.

 

Fitur

Karakter hybrid atau convertible bisa diketahui dari penamaan Yoga pada notebook portabel ini. Seperti diketahui, semua notebook seri Lenovo Yoga telah dirancang untuk dapat difungsikan dalam empat mode (form factor) berbeda, yaitu (1) mode laptop biasa, (2) mode tent, (3) mode stand, dan (4) mode tablet.

Notebook Mode adalah mode notebook konvensional yang menggunakan keyboard, touchpad, dan layar sentuh secara bersamaan. Mode ini disarankan untuk pengguna yang sering mengetik atau bekerja maraton dalam jangka waktu yang lama.

Stand Mode bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam melakukan presentasi. Mode ini berfokus pada layar karena keyboard dalam kondisi nonaktif dan terbalik.

Tent Mode lebih banyak digunakan pengguna saat menonton film/video atau mengakses content lainnnya. Di sini, orientasi layar akan berubah otomatis sesuai pandangan pengguna.

Tablet Mode adalah mode yang mungkin jarang digunakan pengguna Yoga 300. Pasalnya, dengan bobot 1,36 kg, Yoga 300 dianggap masih terlalu berat jika dipegang oleh tangan layaknya sebuah tablet.

Tidak heran jika hadir pula notebook berbasis Windows dengan mekanisme detachable keyboard, seperti Asus Transformer Book T300, MS Surface Pro 3 atau 4, MS Surface Book, HP Spectre x2, Latitude 13 7000, Toshiba Portege Z20t, dan Lenovo ThinkPad 10.

Kemampuan multifungsi (empat mode) Yoga 300, seperti juga seri Yoga lainnya bisa diwujudkan Lenovo berkat berkat inovasi dua engsel fleksibelnya yang dapat diputar hingga 360 derajat.

Engsel yang terbuat dari bahan zync alloy ini diklaim Lenovo telah diuji agar tahan diputar (dibuka tutup layarnya) sebanyak 25 ribu kali. Menurut survei Lenovo, rata-rata penguna notebook membuka layar notebook-nya sebanyak 15 kali dalam sehari.

Sesuai peruntukannya sebagai notebook terjangkau, engsel yang ada di Yoga 300 bukan jenis engsel terbaru dan terbaik dari lini Yoga. Seperti diketahui, Lenovo juga menggunakan jenis engsel 360 derajat lainnya yang lebih berkualitas, yaitu engsel ala jam klasik yang disebut “watchband hinge”. Jenis watchband hinge bisa ditemukan pada seri Yoga 3 Pro atau Yoga 900.

Dukungan lainnya yang tidak kalah penting adalah sistem operasinya (OS) yang menggunakan Windows 8.1 64 bit. Seperti juga software bawaan Lenovo Harmony, penggunaan OS penerus Windows 7 ini diperlukan agar keempat mode Yoga 300 dan berbagai fitur terbarunya bisa bekerja secara optimal.

Saat pengujian, Windows 8.1 merespons dengan tepat kapan saat mengaktifkan/menonaktifkan berbagai fitur tertentu sesuai mode yang aktif, merotasi layarnya secara otomatis (auto rotate screen).

Lenovo juga menyediakan aplikasi khusus yaitu Harmony yang berfungsi mengoptimalkan mekanisme multi mode yang ada pada semua seri notebook Yoga.

Harmony bukan hanya merekomendasikan aplikasi dan konfigurasi yang optimal, tapi juga membaca kebiasan pengguna dalam menggunakan notebook untuk kemudian memberikan saran terbaik (aplikasi dan konfigurasi) agar notebook bekerja lebih optimal.

Selain menyediakan software proteksi siap pakai dengan hadirnya software McAfee LiveSafe (free trial 30 hari), Lenovo juga memasang software buatannya, Lenovo DOit Apps, yang sering kita temukan pada smartphone Lenovo.

Masih ada tool-tool lainnya yang layak disebut, seperti Lenovo Motion Control, Lenovo Veriface Pro (face recognition login), Lenovo Photo Master, dan OneKey Optimizer (system maintenance, power & battery charging mode).

Lenovo DOit Apps menyediakan beberapa tool berguna, di antaranya SHAREit, SYNCit, REACHit, dan lain-lain. SHAREit berfungsi transfer data tanpa kabel, baik via jaringan Wi-Fi atau Direct Wi-Fi (saat pengguna di luar jangkauan hotspot). SYNCit berfungsi untuk melakukan backup/restore data dari contact dan pesan percakapan dari berbagai apps.

Lenovo Motion Control memiliki fungsi utama membantu pengguna dalam mengontrol software dengan gesture jari/tangan. Misalnya, menjalankan fungsi play, stop, atau pause di aplikasi Windows Media Player atau Windows Media Player Classic (MPC).

Lenovo Motion Control juga mendukung gesture untuk membalik halaman atau melihat foto pada e-book reader atau picture/photo viewer pada aplikasi, seperti Windows Live Gallery, Picasa, Windows Photo Viewer, Adobe Reader, hingga MS PowerPoint.

Performa & Baterai

Salah satu indikasi Lenovo Yoga 300 sebagai notebook portabel yang terjangkau bisa diketahui dari hasil pengujian benchmark PC Mark 8 yang standar. Yoga 300 memang ‘hanya’ dirancang untuk menjalankan software/aplikasi standar yang biasanya digunakan pengguna setiap harinya.

Aplikasi tersebut bisa disebutkan di sini, seperti browser, aplikasi office (Word processor, spreadsheet, mail), instant messenger, photo/picture viewer, media player, dan beberapa tool/utility lainnya.

Yoga 300 diperkuat oleh prosesor Intel Celeron N2840 yang menggunakan arsitektur Silvermont. Selain Celeron N2840, arsitektur Silvermont juga diimplementasikan pada prosesor Intel rendah daya lainnya, seperti Pentium dan Atom.

Mobitekno melakukan dua pengujian benchmark PCMark 8 (Edisi Professional v2.5.419.0), yaitu uji Home Accelerated 3.0 Battery Life dan uji Work Accelerated 2.0 Battery Life untuk mengetahui performa performa dan daya tahan baterainya pada penggunaaan tugas-tugas di rumah dan di kantor.

Pada pengujian PCMark 8 Home Accelerated 3.0 Battery Life, skor dan daya tahan baterainya masing-masing 1246 poin dan 4 jam 39 menit. Adapun pada pengujian PCMark 8 Work Accelerated 2.0 Battery Life, skor dan daya tahan baterai Yoga 300 masing-masingnya adalah 1294 poin dan 4 jam 50 menit.

Apabila benchmark PCMark 8 Yoga dibandingkan dengan notebook sekelas tapi diperkuat prosesor lebih cepat, misalnya Intel Pentium N3540, poin totalnya hanya berselisih 200-300 poin. Bagi pengguna awam, perbedaan poin ini mungkin sukar dibedakan, terutama saat menjalankan aplikasi yang relatif ‘enteng’.

Perbedaan signifikan baru dirasakan secara nyata (signifikan) jika Yoga 300 dibandingkan dengan notebook dengan prosesor Intel seri Core i7/i5/i3/M yang berarsitektur Broadwell (skor PCMark 8 berkisar 2500 hingga 6000-an). Utamanya, saat notebook menjalankan aplikasi intensive CPU, seperti software encoding, compression data, video editing, atau high quality 3D game.

Hasil pengujian modul Casual Gaming (bagian dari PCMark 8) yang hanya sebesar 8.33 fps memberikan penegasan bahwa Yoga 300 bukan diperuntukkan untuk menjalankan game 3D pada umumnya. Ini bisa dipahami, mengingat Yoga 300 hanya mengandalkan unit Intel HD Graphics (Gen7 architecture, DirectX 11) yang terintegrasi pada Celeron N2840.

Casual Gaming test mensimulasikan game casual DirectX 9 dengan 3D graphics ShaderModel 2. Workload yang dibebankan Casual Gaming test menggunakan Firefly test yang termuat pada benchmark Futuremark 3DMark06.

Lenovo Yoga 300 akan lebih ideal sebagai notebook portabel jika dilengkapi baterai berdaya tahan lama. Faktor baterai ini akan semakin penting terutama bagi pengguna yang seringkali harus bekerja di berbagai lokasi yang jauh dari sumber listrik.

Jenis baterai yang digunakan Lenovo Yoga 300 adalah Li-Polymer (2-cell, 32Wh) yang secara ‘kasar’ memiliki daya tahan baterai hingga 3-5 jam tergantung pemakaian. Notebook berlayar di bawah 11 inci biasanya memang menggunakan baterai dengan kapasitas tersebut (32 Wh).

Berdasarkan pengujian PCMark 8 (Home/Work), diperoleh daya tahan baterai Yoga 300 hampir mendekati 5 jam (Home: 4 jam 39 menit, Work: 4 jam 50 menit). Hasil ini menunjukkan bahwa notebook Lenovo ini sudah cukup layak digunakan oleh pengguna dengan mobilitas tinggi.

Daya tahan baterai Yoga 300 bisa lebih lama daripada hasil pengujian synthetic benchmark PCMark 8 jika pengguna hanya menggunakan satu atau dua aplikasi di notebook sepanjang aktivitas kesehariannya.

Selain memilih ‘Power Plan’ melalui OneKey Optimizer (OKO), cara lain untuk ‘mendongkrak’ daya tahan baterai dan performa Yoga 300 adalah mengganti hard disk dengan media storage SSD (Solid State Drive) yang lebih hemat dan cepat.

Penambahan kapasitas RAM menjadi 8 GB (dari 4 GB) juga dapat meningkatkan daya tahan baterai meski efektivitasnya tidaklah sebesar penggantian HDD dengan SDD.

Meskipun pengujian menggunakan software benchmark bisa digunakan sebagai salah satu acuan penentuan performa notebook, performa sebenarnya suatu notebook bukan hanya ditentukan dari besarnya skor pengujian synthetic/hybrid benchmark yang diraih.

Sebenarnya masih ada satu acuan yang tidak kalah pentingnya, yaitu skor dari real world benchmark. Benchmark ini memberi tugas (task) yang melibatkan seluruh komponen sistem dalam menjalankan aplikasi sebenarnya.

Terakhir, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana notebook bisa menjalankan beragam sotware atau aplikasi yang digunakan tanpa masalah berarti (tidak crash atau tidak kompatibel). Tentu akan percuma meski notebook cepat tapi seringkali mengalami eror.

Kesimpulan

Bagi pengguna yang membutuhkan notebook portabel sekaligus convertible dengan harga terjangkau (Rp. 5.099.000,-) untuk berbagai aktivitas di banyak tempat, layak mempertimbangkan Lenovo Yoga 300.

Selain layar dengan dukungan sentuhan jari (multi touch screen) bisa menjadi ‘bonus’ penting bagi sebagian pengguna, penggunaan material bodi plastik polikarbonat yang kokoh juga memberikan poin tersendiri bagi Lenovo Yoga 300.

Meskipun Yoga 300 ‘hanya’ dibekali prosesor Celeron N2840 yang performa dan efisiensi dayanya sedikit di bawah prosesor Atom Z3775 yang berarsitektur sama (Silvermont), penggunaan RAM 4 GB sudah sangat memadai bagi notebook ini menjalankan berbagai aplikasi standar, seperti browser, MS Office, audio/video player, dan game-game standar.

Namun perlu diingat, jika Anda tergolong pengguna yang kerap menjalankan aplikasi kompleks atau memainkan game 3D yang rakus ‘resource’, berarti Lenovo Yoga 300 bukan pilihan notebook yang cocok bagi Anda.

Tags: , , , , , , ,


COMMENTS